**
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, November 20, 2017

Rizkymu Tahu Dimana Dirimu

(Embun Pagi Blogger) Kau tak tahu dimana rizkymu, tapi rizkymu tahu dimana dirimu
Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah memerintahkannya menjemputmu
Allah menjamin rizkymu sejak 4 bulan 10 hari didalam kandungan,
Amatlah keliru jika rizky dimaknai dari hasil kerja,
Karena bekerja adalah ibadah, sedangkan rizky adalah urusan-Nya.

Melalaikan kebenaran demi mengkhawatirkan apa yg dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda
Manusia membanting tulang demi angka gaji, yg mungkin esok ditinggal mati
Mereka lupa bahwa hakekat rizky bukanlah yg tertulis dlm angka,
Tetapi apa yg telah dinikmati
Rizky tak selalu ada pada pekerjaan kita
Allah menaruh sekehendak-Nya,
Diulang bolak-balik 7x antara sofa dan marwa, tapi zam-zam malah muncul didekat kaki bayinya
Ikhtiar itu perbuatan, rizky itu kejutan
Dan janganlah lupa, tiap rizky itu akan ditanya,:
"Dari mana dan untuk apa?"

Karena rizky adalah hak pakai, halalnya dihisab dan haramnya diazab
Maka janganlah iri pada rizky orang lain
Bila kau iri pada orang lain, kau juga harus iri pada takdir matinya
Karena Allah telah membagi rizky, jodoh dan dan usia, 
tanpa bisa tertukar satu dengan lainnya  
Jadi bertaqwalah, ridho dengan ketentuan-Nya
Sehingga apapun itu, engkau akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Depok, Nopember 2017

Sumber : anonimous

***

Thursday, August 22, 2013

Kisah Nyata : Keajaiban Sedekah Yang Luar Biasa

Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan.
Illustrasi Sedekah


Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar.

Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi hak-Nya. Dimana suatu saat Dia pun akan menagihnya.

Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan sebuah majlis taklim kaum ibu di sana. Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?" saya membatin.

Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri saja merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada majlis kami saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang Allah berikan. Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama orang-orang yang mencari pemahaman.

Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw)

Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan kepada peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia mengacungkan tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia ingin berbagi pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai kisahnya:

Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.

Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.

Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni!

Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.

Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.

Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini.

Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka

Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.

Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!"

Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu.

Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt.

Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.

"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?! " tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka.

Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.

Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.

Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali ... Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya.

Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air.

Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.

Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini.

Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa.

Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!"

Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.

Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah. ...!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya.. .?!"

Subhanalllah. ... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan.

"Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian miliki dengan zakat." HR. Baihaqi

Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah mengalaminya?

Sumber:  http://lintangkerti.blogspot.com/2012/09/kisah-nyata-keajaiban-sedekah-yang-luar.html
***

Wednesday, June 26, 2013

Jatuh Bangun Jilbabku…

Jatuh bangun jilbabku.. Tulisan Eva Khofiyana di Eramuslim itu mendadak menghantamku. Bukan sekedar karena tulisan dan kisahnya, melainkan tulisan itu mengingatkan kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam satu episode kehidupanku. Karena satu hantaman yang begitu dahsyat aku pernah sesaat melepaskan jilbab yang belasan tahun aku kenakan. Sabar itu pada hantaman pertama, begitu nasihat Rasulullah.

Aku terlahir di keluarga yang akrab dengan balutan rohani katolik. Meski di rapor aku tertulis beragama Islam, tapi tidak pernah aku menjalankan satu pun dari kewajiban sebagai umat muslim. Ayahku yang terlahir dari seorang Ayah yang konon adalah pemeluk agama Islam yang taat bernama Mohammad Zein. Dari makam beliau di kota Yogyakarta, aku mengerti bahwa Eyang Buyut saya tak sekedar pemeluk Islam yang taat tapi karena ketaatannya pada agama, Eyang pun rela gugur saat melawan penjajah Belanda meski tertulis Eyang gugur sebagai prajurit. Perjalanan hidup mempertemukan Ayah dengan Ibu saya yang akhirnya mereka menikah dan lahirlah dua putra dan putri dari pernikahan tersebut.

Ibuku adalah penganut Katolik Roma yang taat. Sekolah Ibu pun tak tanggung-tanggung, SMP di SMP Mater Alma, Ambarawa lalu SMA di Stela Duce, Yogyakarta. Karena didikan dan menghayati segala ibadah Katolik, aku sempat bercita-cita ingin menjadi biarawati. Uniknya, meski akhirnya aku memutuskan memeluk Islam secara penuh, pernah dalam satu periode waktu, perjalanan hidup mengantarkanku menginap di Susteran Santa Maria, Ruteng, NTT. Saat itu aku begitu takjub karena Suster Kepala dengan gembira mempersilahkan aku untuk tidur di kamarnya padahal dengan busana yang aku kenakan jelas bahwa aku adalah seorang muslimah. Aku sempat menolak, cukuplah bagiku tidur di kamar lainnya. Tapi Suster kepala dengan senyum lembutnya berkata, “ Tidak Nak, kamarku itu kamarmu juga.. kelak, kau akan mengerti.. bahwa disinilah tempatmu..” katanya. Aku tercenung. Malam harinya aku begitu asik melihat jajaran buku-buku yang mayoritas berbahasa Italia dan ada sebuah gitar tersedia di kamar. Kamar itu sejuk karena ber-AC selain karena kesejukan Ruteng. Kamar mandinya pun ada di dalam kamar. Pendek kata kamar itu nyaman. Merasakan kedamaian dan ketenangan di susteran Santa Maria adalah satu kenangan tersendiri yang begitu membekas di dalam ingatan.

Ingatan dan perkataan Suster Kepala itulah yang akhirnya membuatku merasa memiliki “pelarian” saat ayah dari ketiga putri yang aku lahirkan kembali menceraikan aku. “Apa salahku Mas? kalau aku memiliki kekurangan, tolong beri tahu aku agar aku bisa memperbaikinya. Kasihan anak-anak. Jika mas menghendaki menikah lagi, menikahlah.., “ entah kalimat apalagi yang waktu itu aku ungkapkan kepada suamiku untuk mengurungkan niatnya untuk menceraikan aku. “Kamu pikir dia wanita apaan mau dipoligami!” bentaknya. Blaaaaaarr.. serasa langit rubuh tepat diatas kepala. “Aku sudah tidak mencintaimu! Aku sungguh-sungguh mencintai dia!  Setiap orang bebas untuk tentukan arah hidupnya, aku telah yakin dengan keputusanku untuk cerai denganmu. Semua orang berhak untuk mengejar kebahagiaannya, termasuk aku. Jadi aku harap kamu jangan menghalang-halangi. Sudahlah..jangan buat hubungan jadi makin buruk. Kamu lakukan apa saja itu gak berpengaruh dengan keputusan aku. Kamu harus coba ikhlas lepas perpisahan ini. Terima saja kenyatan aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kamu wanita dewasa dan berpendidikan, aku harap kamu bisa bersikap bijaksana.” Katanya. Entah apa yang lagi kalimat yang diucapkannya. Hanya yang teringat gelombang kesedihan dan kekecewaan menghantamku begitu dahsyat.

Tuh, kan benar.. gini deh nasib yang bakal kamu terima jika kamu memeluk agama Islam. Pertama ujung-ujungnya suami kamu minta poligami ketika kamu sudah tak lagi remaja dan mempesona. Eh, apesnya iya kalau wanita yang dicintai suamimu mau dipoligami.. kalau ga?? Mau tidak mau dicerai. Hanya dengan mengatakan talak, sudah jatuh talak. Apalagi jika tertulis. Mana keindahnya Islam yang kau percaya itu??
Tangis tak terbendung. Iba yang tak di dengar. Akhirnya aku berusaha mencari peneguhan. Di hadapan keluarga besar suami dengan berani kunyatakan bahwa aku ingin kembali ke katolik. Ketiga putri yang hadir didalam pernikahan kami serta merta menyatakan ingin ikut, kalau Mama ke gereja ya aku ke gereja. Kalau mami katolik, aku ya ikut, “ begitu kata salah satu puteriku. Aku kalap karena kekecewaan dan kesedihan yang luar biasa dahsyat menghantam. Mengetahui suami selingkuh dan memaafkan mungkin mudah bagi seorang istri tapi diceraikan karena perselingkuhan yang terjadi adalah satu hal yang sangat sulit diterima. Aku memang memiliki banyak kekurangan. Tapi yang teringat adalah saat aku memutuskan menerima lamaran suami waktu itu karena aku takjub dengan kalimat “kamu mau ngga jadi istriku?” sedang waktu itu aku belum tahu namanya. Pun aku berharap kedua orang tuanya yang sudah berhaji dan dibesarkan di lingkungan Islam murni mampu membawaku lebih memahami keindahan Islam. “Bukannya Mba suka membuat update status tentang Islam? Masa mau pindah dari Islam?” cetus Ibu mertuaku. Yang lain tatapan yang aku ingat hanya tatapan sinis atau mungkin aku salah menterjemahkan tatapan mereka. Aku tertawa kecut dalam hati. Islam… beginikah Islam? Memberikan kekuasaan penuh kepada seorang suami dengan mudah dapat menceraikan istrinya? Juga memberikan kewenangan untuk berpoligami? Ironisnya suami kerap dengan santainya menceraikan istrinya lalu istrinya-lah yang harus membereskan administrasinya dengan mengajukan gugat cerai meski sesungguhnya telah jatuh talak atas istrinya. Belum lagi pejabat kantor KUA yang dapat disuap hingga banyak kisah tentang buku aspal pun beredar. Kehidupan belasan tahun ini mengajarkanku banyak hal dan ironisnya semuanya justru menunjukkan “belang” dari kaum muslim yang aku pilih secara sadar untuk menjadi bagian dari mereka.

Di rumah, saat akan berangkat bekerja, aku dengan santai berjalan keluar meski aku masih mengenakan baju lengan panjang. Melepas jilbab dan pindah ke agama asalku adalah ancamanku kepada suamiku yang ternyata akhirnya tetap bersikeras pada keputusannya dan menceraikanku dengan selembar pernyataan perceraian. “Ini sudah keputusanku, tolong kamu pahami itu!” cetusnya tanpa ampun. Aku limbung. Kesedihan meledak jauh lebih pedih dari kesedihan dari perceraianku yang pertama dan kedua dengan pria yang sama. Pria yang merupakan ayah  kandung dari ketiga anakku itu mengendarakan mobil dengan tenang. Pun dia tidak mencegah aku untuk keluar dari mobil tanpa mengenakan jilbab. Rambut yang tertiup angin rasanya begitu asing. Tatapan dua pasang mata penjaga keamanan di depan pintu masuk akhirnya aku berlari memasuki toilet yang tergolong mewah. Aku dengan tangan gemetar mengirim BBM kedua wanita yang dekat denganku. Satu sudah aku anggap seperti kakak perempuan sendiri dan satunya lagi seperti adik sendiri. Kesedihan mereka menyadarkan aku. Bukankah aku masuk Islam karena aku begitu yakin akan janji Allah? Bukankah karena perintahNYA, begitu aku masuk Islam aku langsung mengenakan jilbab tak perduli berapa banyaknya tudingan buruk dialamatkan kepadaku saat waku masih menginjak remaja?
Ya Allah.. ampuni aku.. tangisku pun tumpah tanpa terbendung lagi. “Wahai, Bunda! Sungguh, sabar itu ada pada hantaman pertama” nasihat Rasululloh mendadak memenuhi batinku. Semalam, sesudah aku nyatakan niatku untuk pindah kembali ke Katolik dan menjadi biarawati, aku kirimkan sebuah SMS kepada seseorang pria yang ku ketahui memiliki pengetahuan tentang Islam dan akhlak yang tergolong sangat Islami. SMS balasan darinya akhirnya perlahan ku buka dan ku baca lagi. “Hai orang2 yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar” (Al Baqarah 153). Terus berjuang Mbak, Allah sedang menguji mbak. Jadikan sabar dan shalat sebagai penguat. Sesungguhnyadibalik kesulitan itu ada kemudahan.

Meski hanya sesaat aku melepaskan jilbab dan mungkin hanya dua penjaga keamanan gedung tempat aku berkerja yang aku ingat tatapan mata “laki-laki”nya yang sempat melihatku, tapi sungguh kejadian itu hingga saat ini selalu membuat aku selalu tak sanggup menahan titik air mata jatuh berderai.
Kesedihan diceraikan untuk ketiga kalinya ternyata tak berarti apa-apa dibanding perpisahan “sesaat” denganNYA.. ” Katakanlah kepada wanitayang beriman: “Hendaklah mereka menahanpandangannya, dan kemaluannya, danjanganlah mereka Menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlahMenampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atauputera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuanmereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidakmempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengertitentang aurat wanita. dan janganlah merekamemukulkan kakinyua agar diketahuiperhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supayakamu beruntung.” (QS An Nuur:31). Satu saja dari ayat Al Quran yang terus menerus membuatku terkesima dari pertama kali aku membacanya saat aku duduk di bangku kelas 2 SMA dulu. Hingga saat ini, meski belasan tahun berlalu ternyata aku memang belum mampu pasrah dan percaya penuh akan janjiNYA.

Ketika aku seorang anak, aku bahkan mampu melawan orang tua dan akhirnya Alhamdulillah, ibu – wanita yang melahirkanku sekaligus yang langsung mengusirku dan menyatakan aku bukan lagi anaknya pada saat aku menyampaikan keputusanku untuk memeluk Islam sekaligus langsung mengenakan jilbab saat ini sudah mengikuti jejakku menjadi seorang muslimah lengkap dengan jilbab dan juga sudah mampu menghafal dan melaksanakan sholat serta mulai mampu menghafal surat-surat pendek dan mulai bisa membaca Al Quran. Ketika aku menyampaikan keinginan untuk kembali ke agama Katolik dan menjadi biarawati, tatapan mata tak berdaya wanita yang mulai renta itu pun membuatku tercenung. “Kalau kamu kembali ke katolik trus mama harus bagaimana? Mama ikut karena mama tahu kamu selalu berpikir dan memutuskan yang terbaik..” katanya tak berdaya. Ya Allah.. setelah semua puteriku, kemudian ibuku.. lantas siapa lagi? Air mata terus deras mengalir menyesali dosaku yang pernah terbersit untuk meninggalkan jalan kebenaran yang telah kupilih segenap hati. Ya Allah, tetapkanlah aku dalam agama Islam dan periharalah imanku dan tetapkanlah orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku dalam agama Islam dan peliharalah iman mereka, satukanlah kami selalu dalam naungan cinta kasihMu dalam mengapai ridhoMU..

Semoga kisah ini dapat menjadi pembelajaran bersama.. “Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji ? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta.” [Q.S. Al Ankabut: 2-3]. Sungguh diluar dugaanku, ujian datang berulang kali itu justru berasal dari orang yang aku harapkan untuk mampu menjadi imam dan guru bagiku. Namun satu persatu ingatan menghantarkanku pada satu kesadaran, mencintai sesuatu atau seseorang melebihi kita mencintai Allah dan RasulNYA akan selalu menghantarkan kita pada kesulitan dan kemurkaanNYA. Sekalipun itu adalah suami atau istri kita, tak selayaknya kita mencintainya melebihi cinta kita pada Allah dan RasulNYA. Tanpa aku sadari aku kerap merasa iba dan tak sanggup untuk membangunkannya untuk melakukan sholat ashar saat hari libur, aku takut suamiku marah. Padahal kemurkaan Allah yang seharusnya aku takutkan. Begitulah hari demi hari aku tumpuk dosa demi dosa itu hingga akhirnya menghantarkan aku yang meninggalkan perintahNYA untuk berjilbab hanya karena kekecewaan karena seorang suami yang telah bertekad untuk meninggalkan aku bersama ketiga putriku. Tidak mudah memang menjalani kehidupan sendiri bersama amanah-amanah Allah yang dititipkan kepadaku, tapi bukankah setiap manusia adalah khalifah? Bukankah setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri?
Sungguh tidak mudah bagi saya untuk menuliskan kisah ini, namun harapan semoga kisah ini bermanfaat membuat saya meneguhkan hati. Semoga kita dapat senantiasa meneguhkan semangat untuk tetap dalam iman termasuk didalamnya untuk berjilbab.. aamiin..
(Anonim) Muslimah
Sumber: eramuslim.com

***

Tuesday, April 2, 2013

Kisah Pak Kordi [Sebuah Renungan]

dakwatuna.com - Pak Kordi berkali-kali menyampaikan keinginannya untuk berangkat umrah tahun ini. “Mas, aku pengen berangkat umrah. Harus berangkat tahun ini, sesegera mungkin”, ujarnya, dengan mimik wajah serius, padaku, dan ini sudah kesekian kalinya. Aku sendiri terheran-heran, karena selama ini Pak Kordi bukanlah sosok yang dikenal taat beribadah, bahkan kebalikannya. Sering, meski selalu kutolak, aku diajaknya ke diskotik atau kadang aku ditawarinya ikut ke panti pijat yang tentunya bukan sekadar pijat. Pak Kordi sosok yang tak pernah absen di kantin kantor jika waktu shalat Jum’at tiba. Dia juga memilih untuk menikmati isapan rokoknya jika tiba waktu break untuk shalat.
“Bagaimana pendapat Mas Fery soal umrah, maksud saya, apakah saya boleh umrah?”. Ini juga pertanyaan yang entah ke berapa kalinya. Aku selalu menjawab sama, boleh, yang kemudian ku tambahkan bumbu-bumbu untuk memperkuat jawaban. Pernah juga aku sodorkan berlembar-lembar tulisan hasil download dari internet, isinya banyak hal tentang umrah dari berbagai laman web, sekadar agar dia tak lagi bertanya. Tapi tentu saja dia masih bertanya. “Apakah saya yang belum sempurna iman ini boleh umrah?”.
Entah bagaimana awal mulanya aku dan Pak Kordi kemudian bisa satu divisi di kantor. Pak Kordi yang senior, ia sudah mendedikasikan dirinya untuk kantor tempat kami bekerja hampir dua puluh tahun lamanya, setua usia perusahaan kami. Aku sendiri baru lima tahun lebih tiga bulan menjadi pegawai. Meskipun lebih lama masa bekerjanya, tapi di divisi ini Pak Kordi memang orang baru, setahunan. Konon kabar, dulunya Pak Kordi memimpin anak cabang dari perusahaan kami, di luar negeri, sepuluh tahun lamanya, kemudian ia digantikan oleh keponakan dari pemilik perusahaan. Ia dipindah ke sini, di Divisi Pengembangan Bisnis, kantor pusat – induk perusahaan. Bergengsi, tapi sebenarnya hanya bentuk pengusiran, pelengseran dari kursi direktur yang dudukinya. Menurut rumor, Pak Kordi, seiring usianya, dianggap sudah tidak produktif tapi tidak mungkin dipecat karena dia senior. Maka di sinilah ia.
“Mas, saya harus umrah tahun ini. Bukan tahun depan atau tahun depannya lagi. Tahun ini saya harus umrah”. Selalu dengan muka serius, mimik yang selalu sama, dan tentunya pertanyaan yang sama, “bolehkah saya yang belum sempurna imannya ini berangkat umrah?”
Dari raut mukanya, Pak Kordi pertama kali pindah ke divisi ini memang tampak tidak senang. Yang aku tahu, hari-hari pertamanya hanya diisi dengan membenamkan diri di mejanya, berkutat dengan laptop, tapi bukan untuk bekerja, ia bermain games dan internet sepanjang waktu. Bahkan hampir tiga bulan berikutnya ia tetap sama, tetap berkutat dengan permainan dan internet dari laptopnya, tidak ada tugas spesifik yang dikerjakan. Namun selama tiga bulan itu, kepala divisi kami tidak pernah memberi perintah atau tugas padanya. Seperti yang lainnya dalam divisi kami, segan atau takut untuk sekadar memulai pembicaraan dengannya. Dia sendiri pun tak pernah menegur sapa.
“Harus, saya harus berangkat umrah tahun ini”. Tekadnya bulat. Diulang hampir di setiap kali ia bertanya padaku soal keinginannya berangkat umrah, sebagai kalimat penutup, dan seperti telah menjadi kebiasaan sembari ditepuknya pundakku.
Sebuah prestasi, menurut kawan-kawan, di divisi ini memang aku, satu-satunya, yang dekat dengan Pak Kordi. Kedekatan itu terjadi ketika enam bulan yang lalu kepala divisi membentuk tim kerja. Tiga hingga empat orang tiap tim, dalam daftar itu, aku dan Pak Kordi masuk dalam satu tim. Kami keliling ke daerah-daerah. Jadwalnya padat. Paling padat dibanding tim lain. Pencapaian kerja terbaik. Pak Kordi lah yang berperan dominan dalam eksekusi deal-deal bisnisnya. Sedang aku, menurut Pak Kordi, adalah sebuah titik yang menjadi penutup kalimat. Tidak banyak peran, tapi ia sebut penting. Karena itulah aku paling banyak menghabiskan waktu bersama pak Kordi dibanding anggota lain dalam tim. Bahkan tak jarang, aku bersamanya di luar urusan kerja. Aku sendiri menganggap kedekatan itu sebagai bentuk kewajiban, karena partner kerja, menghargainya sebagai orang tua, dan yang paling sering, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, terutama soal umrahnya, tak bisa lebih dekat dari itu. Aku dekat tapi membatasi, aku tak suka ajakannya untuk “minum atau main perempuan”.
“Mas, bolehkah saya umrah?”. Tak ada lagi pertanyaan itu kali ini. Pertanyaan yang hampir selalu dilontarkan ketika aku melintas di meja kerjanya – letak mejaku melewati mejanya. Kulihat kursi Pak Kordi kosong. Biasanya tidak demikian, Pak Kordi biasanya sering datang lebih awal dariku. Lega karena tak harus memberikan jawaban. Tak harus memasang muka dengan menjaga sesungging senyum, meski masam hati karena pertanyaan yang selalu sama.
“Tahun ini saya harus umrah. Saya sudah meyakinkan diri untuk umrah tahun ini, bukan tahun depan atau tahun depannya”. Serasa menjadi asing tak mendengar Pak Kordi memotivasi dirinya hari ini. Sejak ia mulai bertanya tentang umrah, sejak itu, tiap hari, menjelang jam istirahat kantor atau ketika hendak berpisah menuju kamar masing-masing di hotel saat kami dinas di luar kota, selalu ia selipkan kalimat motivasi umrahnya.
Seusai istirahat, setelah shalat dan makan siang, meja Pak Kordi masih kosong. Sepertinya hari ini dia tak masuk kerja. Kuketik SMS, menanyakan kabarnya. Lima hingga sepuluh menit tak berbalas. Bahkan sudah sejam pun tak dibalasnya. Pak Kordi bukan tipe demikian, tak membalas SMSku.
Menjelang waktu pulang, lelaki itu, Pak Kordi, berada di ruang kepala divisi kami. Sekitar lima menit mereka nampak berbincang kemudian Pak Kordi keluar mengarah ke mejanya. Bukan, ia menuju mejaku. Seakan tak berharap aku bangkit dari kursi, ia sodorkan padaku surat dalam amplop. “Bacalah!”, sembari menjabat tanganku. Setelahnya ia pergi, keluar kantor, mungkin pulang. Antara heran dan tertegun, aku dua kali membolak-balik amplop pemberian Pak Kordi, mencoba menerka isinya. Lalu kusobek, kubuka dan kubaca isinya.
 ---------

Sahabatku, Mas Fery
Saya bukan orang yang pandai berbasa-basi, apalagi dalam tulisan. Ini pertama kalinya saya menyampaikan dalam bentuk tertulis karena saya tak bisa menyampaikan secara langsung. Tulisan ini sebagaimana tujuannya, mengungkapkan semua yang tak bisa saya katakan secara lisan pada Mas Fery.
Ketika Mas Fery menerima surat ini, berarti ini merupakan hari terakhir saya menjadi partner kerja Mas Fery. Sudah waktunya saya mengundurkan diri, mengakhiri masa pengabdian saya di perusahaan ini. Saya sudah tua, sekarang saatnya menikmati dan menghabiskan sisa usia bersama dengan keluarga. Dan itu berarti, sudah waktunya saya menyampaikan hal berikut kepada Mas Fery;
Pertama, saya sangat menikmati kebersamaan kita selama setahun belakangan ini. Bersama dengan Mas Fery, saya merasa seperti kembali muda, penuh semangat kerja. Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa Mas Fery merupakan titik yang menjadi penentu di mana rangkaian kata-kata saya berakhir menjadi kalimat, dan saya tidak salah telah mendapatkan partner kerja sekelas Mas Fery. Banyak hasil dari capaian kerja tim diawali dengan analisa akhir Mas Fery, dan saya sangat suka. Itu luar biasa. Mas Fery merupakan aset berharga bagi perusahaan ini. Semoga Mas Fery tak berniat bekerja di perusahaan lain.
Kedua, maafkan atas kelancangan saya, yang hampir tiap kali berjumpa dengan Mas Fery, selalu bertanya soal umrah. Dan saya berterima kasih karena Mas Fery bersedia memberikan jawaban. Saya mulai bertanya soal umrah ketika selama tiga bulan pertama saya berada dalam satu ruang, meski Mas Fery segan menegur saya, Mas Fery selalu pamit dan mengajak saya untuk shalat di setiap waktu shalat tiba. Tanpa banyak bertanya, Mas Fery menyempatkan, setiap hari, mengajak saya untuk shalat. Hanya mengajak shalat. Begitu pula sebaliknya, selama setahun kita menjadi Partner, selama ada kesempatan, saya pun mengajak Mas Fery untuk pergi ke diskotik, menikmati minuman keras atau “main perempuan”, dan Mas Fery selalu menolak.
Ketiga, karena semua hal di atas, maka kemarin saya resmi mengundurkan diri dari perusahaan ini, sudah waktunya saya menikmati masa tua tanpa beban atas perusahaan ini. Saya sudah minta Pak Candra, pemilik perusahaan kita, untuk menempatkan Mas Fery sebagai pengganti saya. Akhirnya saya merasa lega, menemukan orang yang tepat.
Keempat, nama saya bukan Kordi, dan saya minta maaf, saya juga bukan seorang muslim sebagaimana yang selama ini Mas Fery sangka. Nama Asli saya, Cornellius Adi Wijaya. Nama Kordi merupakan nama yang asal sebut untuk menutupi identitas asli saya. Adi Jaya, nama salah satu anak perusahaan kita, diambil dari nama saya. Ya, saya saudara dari Candra Wijaya, keluarga pemilik PT Jaya Grup. Saya sengaja menyamarkan identitas demi mengenal Mas Fery secara lebih dekat.
Setahun lalu, sebelum saya menyamar menjadi partner Mas Fery, mungkin Mas Fery sudah lupa, sebenarnya kita pernah berjumpa. Ada meeting yang dilaksanakan dari pagi hingga sore. Di tengah meeting ada bunyi adzan yang saya kira pasti berasal dari HP Mas Fery – Saat itu saya jengkel, merasa terganggu, mengapa dalam meeting yang penting, tidak disilent saja. Saat itu Mas Fery menyampaikan izin untuk shalat. Kejadian berulang di sore harinya, HP itu mengeluarkan bunyi adzan lagi dan Mas Fery meminta izin kembali untuk shalat. Perasaan jengkel saya berubah menjadi kagum. Mas Fery bergegas memenuhi kewajiban pada Tuhan. Saya kagum karena dalam ruangan itu ada beberapa karyawan yang juga muslim, tapi mereka tetap duduk di tempatnya. Mungkin selang beberapa lama kemudian ada yang beranjak untuk shalat, tapi tak ada satu pun yang berterus terang meminta izin untuk shalat, seperti yang Mas Fery lakukan. Di situlah saya yakin, Mas Fery adalah orang yang tepat menggantikan saya. Keyakinan saya tidak salah. Saya telah membuktikan keyakinan itu selama setahun terakhir ini.
Terakhir, selamat berangkat umrah, saya sudah siapkan paket umrah untuk Mas Fery dan keluarga, empat orang. Nanti akan ada yang menghubungi Mas Fery untuk mengurus (jika belum ada) passport dan dokumen lainnya. Dan seusai umrah, saya berharap Mas Fery sudah bisa memulai aktivitas yang baru, menjadi orang nomor satu di anak perusahaan Jaya Grup, PT Adi Jaya.
Salam hangat,
Cornellius Adi Jaya



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/30346/pak-kordi-dan-rencana-umrahnya/#ixzz2PIP3xFWQ
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

***

Wednesday, February 13, 2013

Si Pembunuh Dibebaskan Nabi Lewat Mimpi



Meski ahli maksiat, namun pemuda ini memiliki sisi kebaikan kala terjadi sesuatu dalam perjalanan hidupnya.
Pemuda itu menjadi pelindung salah seroang ahlul bait keluarga Rasulullah SAW.

Siapa saja yang mimpi telah bertemu dengan Rasulullah SAW adalah benar adanya, karena setan tak mampu meniru fisik Nabi Muhammad SAW dengan kehendak-Nya.

Pada tahun 200-an Hijriyah, ada seorang Gubernur Baghdad yang sangat arif dan bijaksana serta memegang tali Allah SWT dalam memimpin lagi dermawan dan ulung dalam hal politik. Dialah Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab Al-Kuza'i.

Pada suatu malam, Ishaq bin Ibrahim ini tengah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan menitipkan suatu pesan.
"Lepaskan tawananmu....lepaskan si pembunuh itu....," perintah Rasulullah SAW kepada Ishaq bin Ibrahim dalam mimpinya.

Ishaq bin Ibrahim hanya menatap wajah seseorang yang rupawan dan terpaku.
Belum sempat Ishaq Ibrahim ini bertanya, Rasulullah SAW kembali berkata,
"Wahai Ishaq bin Ibrahim, lepaskan si pembunuh itu...," perintah Rasulullah SAW dalam mimpi.

"Astaghfirullah...ternyata aku hanya bermimpi," kata Isahq bin Ibrahim setelah sadar dari tidurnya.
Semalam ia bermimpi ada orang dengan wajah rupawan yang berani memerintahkan untuk melepaskan seorang pembunuh yang dipenjarakannya. Ia benar-benar penuh keheranan.
Betapa tidak, yang menyuruh demikian bukan orang biasa, tapi dialah orang yang sangat dicintai oleh Ishaq bin Ibrahim, selalu dipujinya setiap waktu dan setiap nafasnya.

Pada pagi harinya, semua keluarganya telah mendapati Ishaq bin Ibrahim wajahnya pucat dan gemetar. Sungguh hal yang tidak biasanya mereka lihat sebelumnya.

Pak Gubernur Menuju Penjara.
Gubernur Baghdad yang kurang lebih menjab 30 tahun ini segera saja bergegas dan bahkan tidak sempat sarapan dan berkata-kata sepatah klatapun kepada keluarganya. Sang Gubernur segera menuju kantor penjara dan langsung memanggil kepala penjara.

"Wahai kepala penjara, siapa saja semalam yang ditangkap dan dipenjara karena kasus pembunuhan," tanya sang Gubernur.
"Ini Bapak, silahkan dilihat," kata si kepala penjara sambil menyodorkan buku daftar tawanan.
"Tidak ada kasus pembunuhan tadi malam Pak," kata kepala penjara kepada Gubernur.

Sang Gubernur kembali lagi heran dibuatnya.
Tadi semalam dia jelas-jelas bermimpi bertemu dengan Rasululah SAW yang menyuruhnya untuk melepaskan si pembunuh, namun dari daftar tahanan menunjukkan bahwa kasus pembunuhan semalam tidak ada, yang ada hanya kasus pencurian saja.

"Apa tidak ada lagi daftar tawanan selain in?" tanya Sang Gubernur.
"Sebentar Pak, saya tanyakan ke beberapa anak buah saya," jawab kepala penjara.

Sang Gubernur masih tetap saja ngotot dan memerintahkan kepada anak bauahnya untuk mencari si pembunuh yang dilakukan tadi malam. Sang Gubernur sangat yakin sekali bahwa perintah Rasululah SAW selalu benar adanya.
Sang Gubernur dan anak buahnya tetap berupaya mencari si pembunuh yang tertangkap tadi malam bersama seluruh anggota pengawal penjara.

Tak berapa lama kemudian kepala penjara berserta seorang anak buahnya datang menhadap Gubernur.
"Apakah ada laporan tentang penangkapan seorang pembunuh tadi malam?" tanya Gubernur kepada salah satu anak buah kepala penjara yang berjaga tadi malam.
Kepala penjara belum mendata semuanya, maklumlah sang Gubernur datangnya terlalu awal, jadinya si kepala penjara masih berbenah dan mendata ualang daftar tawanan.

"Aaada Pak," jawab keduanya dengan dada berdebar.
Ternyata nama si pembunuh itu memang ada, tapi memang terlewatkan tunuk ditulis didaftar buku tahanan. Setelah ditelusuri, ternyata kertas yang bertuliskan nama si pembunuh sempat tercecer di atas meja dan baru saja ditemukan.

Apakah ini termasuk salah satu mukjizat dari Rasulullah SAW meski Beliau sudah meninggal. Wallahu A'lam.
Tapi Allah SWT memang Maha Mengetahui, dan melalui Rasulullah SAW lah Allah SWT mengabarkan.
"Sekarang juga panggil si pembunuh itu," perintah Gubernur kepada anak buahnya.


Si Pembunuh Melindungi Ahlul Bait Rasulullah SAW.
Akhirnya, datanglah orang yang dicari-cari gubernur tadi.
"Apakah benar engkau telah membunuh seseorang tadi malam?" tanya Gubernur kepada si pembunuh.
"Iiii...yaaa..., saya pembunuhnya," jawabsi pembunuh dengan wajah pucat dan badan gemetar karena takut.
"Seberat apakah hukuman buatku...," kata si pembunuh dalam hati.
Ketika ditanya mengenai sebab dia membunuh, sesekali dia tak mampu berkata apa-apa. Ketakutan tengah menguasi dirinya.

"Tenangkan dirimu...saya cuma mau engkau berkata dengan jujur," kata Gubernur menenagkan.
"Jujurlah wahai pemuda, berkatalah apa adanya, kemungkinan kami bisa mempertimbangkan hukuman untuk dirimu," kata Gubernur dengan bijak.

Tutur kata yang begitu ramah dari Gubernur ini mampu mendinginkan suasana. Terlebih si pembunuh tersebut dankali ini si pembunuh mulai bisa bernafas dengan stabil lagi.
Setelah tenang, si pembunuh mulai angkat bicara.
"Begini ceritanya Pak Gubernur," kata si pembunuh memulai ceritanya.

"Hari itu saya memang terpaksa, sungguh sangat terpaksa membunuhnya Pak," kata si pembunuh.
"Benarkah demikian...hmmm....," guman Gubernur.

Pemuda ini memang awalnya selalu akrab dengan minuman keras dan hali maksiat serta berzina. Pokoknya mo limo selalu jadi kesehariannya.
Pesta maksiat paling sering dilakukan di rumah bos mereka.
"Begitulah hari-hari saya Pak, sampai pada akhirnya...," kata pemuda yang ingin melanjutkan tapi dipotong oleh ucapan Gubernur.
"Ah...yang benar saja....," kata sang Guberneur penuh heran.
Kalau si pemuda ini ahli maksiat, lalu kenapa Rasulullah SAW menyuruhnya untuk melepaskan orang yang seperti ini.

"Sampai pada suatu hari, tiba-tiba saja bos saya datang dan membawa seorang gadis cantik nan rupawan ketika kami sedang pesta maksiat. Tapi, kali ini perempuan yang dibawa bos saya sangat cantik, tidak seperti perempuan biasanya. Tak sanggup lidah ini melukiskan secantik apa dia," lanjut si pemuda.
"Tolooong...," teriak si gadis berontak ingin melepaskan diri.

"Segera saja kami pun berlomba untuk untuk memperebutkan si gadis itu. Seperti itulah kebiasaan kami," kisah si pembunuh tentang hari-hari buruknya.
"Tapi Pak Gubernur, gadis ini sangatlah jauh berbeda dengan gadis lainnya. Kami sangat kagum dengan fisiknya yang aduhai.., dan akhirnya akulah yang berhasil membawa gadis itu. Aku membawa dia masuk ke kamar dan sesekali si gadis berontak dan ingin melarikan diri," tutur si pembunuh.

"Ketika saya ikat kaki dan tangannya, dan ketika saya akan menjamahnya layaknya suami sitri, si gadis berteriak dengan keras. Teriakannya melemahkan tubuhku ini. Aku pun gemetar oleh teriakan itu karena belum pernah ada gadis yan berteriak sedemikian rupa. Aku bertobat Pak Gubernur, aku benar-benar bertobat," jelas si pembunuh.
"Apa yang diteriakkan gadis itu?" tanya Gubernur.

Gadis itu berteriak demikian.
"Takutlah dengan Allah...takutlah dengan Allah...," teriak gadis itu.
"Takutlah dengan Allah....takutlah dengan Allah...Allah...Allah...takutlah...," teriaknya lagi.
"Takutlah dengan Allah...wahai Kakekku Muhammad....peliharalah dan jagalah kehormatanku....jagalah kehormatan kakekku Muhammad yang mengalir dalam tubuhku ini," teriak si gadis dengan suara lantang.

Karena teriakan itu, tiba-tiba saja tubuhku lemah tak berdaya seperti tersengat listrik. Pengakuan gadis itu telah membuatku membisu dan badanku kaku. Aku pun membatalkan misiku dan aku bersumpah akan menjaga gadis itu dengan jiwa dan ragaku agar dapat keluar dari lingkungan maksiat itu.

Wanita itu mengatakan bahwa dia telah ditipu oleh bosku yang dijanjikan pekerjaan sebagai penjual kurma dan dijanjikan pula perhiasan sebagai bonusnya hingga si gadis menuruti perkataan bosku.

Lalu kami pun dengan sembunyi-sembunyi untuk keluar dan pergi dari tempat maksiat itu.
Namun, tanpa diduga, kawan-kawanku memergoki kami dan ingin merebut gadis itu dari peganganku. Mereka ingin mendapatkannya, aku pun semakin kuat melindungi perempuan terhormat itu. Aku pun mencoba menjelaskan ke kawan-kawanku tentang alasanku melindunginya, tapi mereka tidak percaya dengan perkataanku.
Aku katakan kepada mereka bahwa gadis itu masih suci, dan merupakan salah satu keturunan orang yang saleh dan sangat mulia yang pernah hidup di dunia ini.

Lagi -lagi kawan-kawanku tak pecaya dengan perkataanku, malah mereka mencoba merebut kembali.
"Enak saja engkau ini, ah itu hanya alasanmu saja, cepat berikan gadis itu," kata mereka berkilah.

Akhirnya, terjadilah hal yang tidak diinginkan, kami saling berkelahi satu sama lain bak perang saudara hingga salah satu mati. Meski demikian salah seorang dari mereka tetap saja mencolak-colek gadis mulia itu, hingga aku mati-matian membelanya. Aku tak tega sedikitpun gadis itu disentuh oleh kawan-kawanku.

Segera saja aku suruh gadis itu untuk pergi dari tempat itu.
"Lari...cepat lari...jangan hiraukan aku...," kataku kepada gadis mulia itu.

Sambil berlari gadis itu berteriak.
"Semoga Allah menutupi aibmu seperti kamu menutupi aibku. Semoga Allah melindungimu sebagaimana kamu melindungiku...," kata gadis itu sambil berlari.
Itulah kata-kata terakhir pertemuanku dengan gadis itu. Sementara karena kawan-kawanku masih saja ingin mengikuti dan merebutnya, terpaksa aku bunuh kawanku itu.

Kawanku bersimbah darah, tewas oleh tanganku ini. Ia telah mati. Aku membunuhnya.
Itulah hari pertamaku menjadi pembunuh.
"Ada yang mati...ada yang mati...," teriak salah seorang temanku sambil lari berhamburan.
"Mendengar teriakan inilah masyarakat berduyun-duyun mendatangi mayat kawanku itu, sementara pisau dan darah masih ada di tanganku. Mereka pun membawaku ke sini dan begitulah ceritanya mengapa aku ditangkap Pak Gubernur," si pembunuh mengakhirni ceritanya dengan perkataan jujur.

Si Pembunuh Divonis Bebas.
"Aku sudah menduga, kalau engkau tidak salah wahai pemuda," jawab sang gubernur dengan santainya.
Ada yang heran, juga ada yang bingung dengan penuturan gubernur ini, terlebih lagi bagi si pembunuh itu.
"Mulai saat ini, engkau aku bebaskan dan perkaramu akan aku serahkan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," perkataan penutup dari Gubernur.

Sebelum Gubernur meninggalkan tempat, pemuda itu sempat diberitahu tentang mimpinya bertemu dengan Rasululah SAW dan sempat juga Pak Gubernur memberi hadiah kepada si pemuda. Namun, si pemuda menolaknya dengan alasan bebasnya dia sudah lebih dari segalanya.
Pak gubernur Ishaq bin Ibrahim ini meninggal dunia pada tahun 235 H.

Renungkanlah....

Betapa Rasulullah SAW sangat mendengar dan mengetahui siapa pun yang mencintainya, begitu juga dengan nasib orang yang mencintai Ahlul Bait keluarganya.

Dikutip dari: Kisah Islamiah
***

Monday, February 11, 2013

---Hati Yang Diam Kala Terluka---

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri,mandi dan bersalin pakaian.

Sejenak sebelum masuk keruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter,''Kenapa lama sekali dokter! Tidak taukah lama anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?''

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, ''Saudaraku saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada diluar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju kesini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik,dan yakinlah bahwa ALLAH akan menjaga anak anda.''

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredamkan amarah si bapak,bahkan suaranya mengguntur. ''Anda bilang apa?Tenang!?Sedikitpun anda tidak peduli rupannya,apakah anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat?--semoga ALLAH mengampuni anda--apa yang akan anda lakukan jika anak anda meninggal?''

Sambil tetap mengulas senyum dokter menanggapi,''Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan ALLAH: ''Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi roji'in.

Dokter itu melanjutkan,''Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman? Maaf Pak,dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga memendekkannya. Usia ditangan ALLAH. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah,oleh karena itu jika terjadi yang tidak kita inginkan ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Saran saya,sebaiknya anda pergi ke mushola rumah sakit untuk memperbanyak sholat dan doa kepada ALLAH agar Dia menyelamatkan anak anda''. Tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis,''Nasehat itu memang mudah,apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda."

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam,lalu sang dokter keluar tergerasa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien,''Berbahagialah Pak, alhamdulillah operasi berjalan lancar ,anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci."

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain,tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit,sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat.

Seketika orang tua anak itu berkata,"Ada apa dengan dokter egois itu,tidak sedikitpun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?"

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata,"Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda."

Ya ALLAH rahmatillah hati yang meski terluka,namun tidak bicara.

Semoga Bermanfaat ....
Silahkan saudara-saudariku yang baik, yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin, Aamiin ya ALlah ya Rabbal’alamin …

Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
(repost from:Majalah Qiblati)
***

Saturday, February 9, 2013

Wanita Pertama Penghuni Surga, Dialah Mutiah

Wanita Pertama Penghuni Surga, Dialah Mutiah
Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin  setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.
Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.
Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”
Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.
“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”
Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”
Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.
Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.
Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.
Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.
Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.
Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.
Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.
Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.
Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.
“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”
Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.
Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.
Wallahu a’lam bish shawab
Oleh: Silmi Nurdini Kamilah
(Islampos.com/muslimahzone.com)
***

Dengan Jilbabnya Ia pun Mampu Berdakwah, 7 Profesor Barat Masuk Islam Karenanya



IlustrasiKisah yang satu ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyak potret kehidupan seorang wanita muslimah yang begitu bangga dan merasa terhormat dengan agama yang selama ini ia telah hadir mewarnai perjalanan hidupnya . Seorang muslimah yang di hatinya terdengar keras detak syiar agama Allah .

Itualah hati yang mampu mengenal Allah dan Rasul Nya sehingga keraguan tak pernah lagi dijumpai di dalamnya. Dialah sosok seorang wanita muslimah yang hatinya selalu selalu memikul tanggung jawab da’wah. Namun sayang figur semacam ini ternyata langka untuk kita temukan. Ya memang sangat langka sekali.
Ummu Abdul Aziz, begitulah wanita ini biasa disapa dalam kesehariannya. Suaminya seorang dokter yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia.
Pada satu kesempatan, Ummu Abdul Aziz harus menyertai suaminya untuk menghadiri salah satu konferensi medis yang diselenggarakan di salah satu negara Eropa. Dengan langkah pasti ia iringi keberangkatan sang suami. Ya, ia sadar sekali bahwa Tuhan yang selama ini ia sembah di negaranya tak lain adalah Tuhan yang akan ia jumpai di negera eropa tersebut. Tuhan yang satu, Allah. Demikian pula halnya kaum Pria yang ia jumpai nya di negara asalnya, Arab Saudi. Oleh karena itu , setibanya di negara tujuan, kondisinya tidak berubah sedikitpun.
Komitmennya untuk senantiasa melaksanakan segala perintah Tuhannya ia selalu pegang dengan baik. Hal ini nampak terlihat jelas dari cara ia berpakaian. Potongan kain yang dikenakannya menutupi seluruh anggota tubuhnya.. Ya Ummu Abdul Azis mengenakan pakaiannya secara lengkap sehingga tidak tak sedikitpun anggota tubuhnya yang dapat terpandang mata, meskipun ia berada di kawasan Eropa yang identik dengan mode-mode pakaian masa kini . Oleh karenanya wajar apabila masyarakat Eropa yang menjumpainya merasa heran dengan pemandangan yang sangat asing seperti yang ia tampakkan. Ia pun mulai menjadi pusat perhatian, seakan-akan bertanya ‘” Makhluk apakah yang ada di balik kain hitam ini?” Benar-benar pemandangan yang sungguh aneh bagi mereka. Pada suatu hari, beberapa wanita Eropa berkumpul mendatanginya. Rata-rata mereka adalah para profesor yang bisa dibilang sudah cukup berumur. Dialogpun akhirnya berlangsung di antara mereka (Qadaralllah ummu Abdul Aziz mampu berbahasa Inggris). Dengan begitu beraninya salah seorang dari mereka mengajukan sebuah pertanyaan , “ Kamu pasti berpenampialan seperti ini hanya untuk menyembunyikan cacat yang ada di badanmu bukan ? Atau mungkin sekedar menutupi wajahmu yang nampak tidak cantik ?? Ya kiranya anggapan seperti itulah yang tertanam di benak mereka selama ini terhadapnya. Ummu Aziz langsung membawa mereka ke salah satu sudut ruangan , lalu membuka cadar yang selama ini menutupinya wajahnya. Ternyata ia nampak sebagaimana wanita normal pada umumnya , tanpa ada cacat sedikitpun sebagaimana dugaan mereka. Bahkan mungkin parasnya lebih cantik dari wanita biasanya, insya Allah. Kesempatan ini tentu tidak ia biarkan berlalu begitu saja tanpa menyampaikan sesuatu kebenaran.
Setelah memperlihatkan wajahnya , Ummu Abdul Azis langsung mulai masuk ke pembicaraan inti. Ia jelaskan kepada mereka bagaimana Islam memposisikan wanita . Ia paparkan sejauh mana penghormatan dan aparesiasi agama Allah ini terhadap kaum Hawa selain ia berikan gambaran tentang ajaran agama Islam secara umum. Tahukah apa yang terjadi setelah itu ? Ya setelah tiga jam berlalu, sebanyak tujuh dari sepuluh Professor wanita tadi langsung mengikrarkan keislaman mereka! Tak lain karena Ummu Abdul Aziz atas izin Allah! Bayangkan tujuh orang Professor masuk Islam hanya dalam kurun waktu tiga jam setelah melakukan dialog.
Sebagai seorang muslimah Ummu abdul Aziz tidak merasa kecil sehingga menjadi asing dengan ajaran agamanya Kehadirannya di negara pengusung faham liberalisme yang jauh dari tata nilai sosial tersebut . Ia tetap berpakaian muslimah sejati dan tidak mempengaruhinya untuk berganti pakaian super ketat dengan hiasan renda di sana-sini seperti perhiasan kejahiliyahan layaknya barang murahan.
Tujuh orang professor wanita menyatakan keislaman mereka . Allah pun meninggikan derajat mereka dengan agama ini. Agama yang selama ini menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi sosok seperti Ummu Abdul Aziz. Figur dari seorang muslimah yang berusaha untuk mengajak umat ini kepada jalan Allah. Ia fungsikan dirinya sebagai media turunnya hidayah bagi siapa yang Allah kehendaki. Dengan cara seperti ini ia mampu merubah pandangan minor mereka terhadap agama yang Allah ridhai ini.
La ilaha ilallah….semoga Allah senantiasa memberikan taufikNya kepada dirimu, Ummu Abdul Aziz. Allah jaga dirimu sehingga benar-benar bermanfaat bagi agama dan ummat ini. ..Amiin
Disador dari isah tulisan: Muhammad Saleh Al Qathan
Sumber: (eramuslim/muslimahzone.com)
***

Friday, February 8, 2013

Kisah Ummu Mahjan

Pelajaran yang Tak Terlupakan dari Kisah Ummu Mahjan

Wahai ibuku… Wahai saudariku… Janganlah Anda meremehkan amal kebaikan sekalipun kecil, dan ketahuilah bahwa Anda diseru untuk menunaikan tanggung jawab Anda dengan mencurahkan segenap kemampuan dan banyak berkorban dalam rangka menegakkan bangunan Islam yang agung. Janganlah sekali-kali anda mengelak dari tugas anda sekalipun hanya sedetik karena tipu daya musuh Islam terhadapmu. Mereka musuh-musuh Islam ingin sekiranya engkau menyimpang dari tugasmu yang mulia, dan mereka berupaya menjatuhkan semangatmu dalam berhidmat kepada Islam dan membina umat.
Janganlah… dan sekali lagi janganlah Anda mengelak dan mundur dari berkhidmat kepada Islam karena anda merasa lemah, tidak ada kemampuan untuk ikut andil dalam menguatkan masyarakat Islam, sebab sesungguhnya perasaan-perasaan seperti itu merupakan rekayasa dari setan jin dan manusia.
Maka di sini kami hendak menyuguhkan sebuah kisah seorang wanita yang lemah dan berkulit hitam. Kisah ini merupakan sebuah pelajaran bagi kaum muslimin dalam hal kesungguhan, ketawadhu’an hingga sampai pada puncak semangatnya.
Beliau seorang wanita yang berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya, bahwa beliau tinggal di Madinah [Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (VIII/414)].
Beliau Radhiyallahu ‘anha seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang lemah. Untuk itu beliau tidak luput dari perhatian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sang pemimpin, sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka, maka tidakkah anda tahu akan hal ini wahai para pemimpin rakyat?
Beliau Radhiyallahu ‘anha menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat Islam. Lantas apa yang bisa dia laksanakan padahal beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Dan putus asa adalah jalan yang tidak dikenal di hati orang-orang yang beriman.
Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Beliau senantiasa menjaga kebersihan rumah Allah, sebab masjid memiliki peran yang sangat urgen di dalam Islam. Di sanalah berkumpulnya para pahlawan dan para ulama’. Masjid, ibarat parlemen yang sebanyak lima kali sehari digunakan sebagai wahana untuk bermusyawarah, saling memahami dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah universitas tarbiyah amaliyah yang mendasar dalam membina umat.
Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pulalah yang terjadi pada zaman khulafa‘ur rasyidin dan begitu pula seharusnya peranan masjid hari ini hingga tegaknya hari kiamat.
Untuk itulah Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha tidak kendor semangatnya, sebab pekerjaan itu merupakan target yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak pernah meremehkan pentingnya membersihkan kotoran untuk membuat suasana yang nyaman bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dalam bermusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.
Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga beliau wafat pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia wafat, para shahabat Ridhwanullahi ‘Alaihim membawa jenazahnya setelah malam menjelang dan mereka mendapati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan beliau, sehingga mereka langsung menshalatkan dan menguburkannya di Baqi‘ul Gharqad.
Pagi harinya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat, mereka menjawab, “Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi anda dan kami dapatkan anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan anda.” Maka beliau bersabda, “Marilah kita pergi!” Lantas bersama para shahabat, Rasulullah pergi menuju kubur Ummu Mahjan. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf di belakang beliau, lantas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menshalatkannya dan bertakbir empat kali [lihat al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah (VIII/187)]
Sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:
إِنَّ هٰذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةٌ عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللّٰهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” [Lihat al-Ishabah (VIII/187), al-Muwatha’ (I/227), an-Nasa’i (I/9) hadits tersebut mursal, akan tetapi maknanya sesuai dengan hadits yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat al-Bukhari dan Muslim.]
Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.
Oleh karena itu ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para shahabat beliau Ridhwanullahi ‘Alaihim yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kematiannya agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan ke tempat tinggalnya yang terakhir di dunia. Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera menuju kuburnya untuk menshalatkannya agar Allah menerangi kuburnya dengan shalat beliau. Wahai ibuku… wahai saudariku… tahukah Anda setelah ini apa yang dituntut dari Anda berupa andil yang telah Anda sumbangkan kepada agama dan umat?
Sumber: Aninda Chaerunnisa facebook.com.
***
****