**
Showing posts with label Kisah Muallaf. Show all posts
Showing posts with label Kisah Muallaf. Show all posts

Wednesday, October 23, 2013

Masuk Islam, Ahmad Thomson Ungkap Sistem Dajjal

ahmad thomson 490x326 Masuk Islam, Ahmad Thomson Ungkap Sistem Dajjal
UNTUK para pemerhati nubuwat akhir zaman sekarang ini, nama Ahmad Thomson tentu tidak asing lagi. Bukunya “Sistem Dajjal” menjadi salah satu buku pegangan “wajib” bagi umat Islam yang ingin mengetahui konspirasi tangan-tangan besar penguasa dunia. Ia begitu fasih




memaparkan fenomena-fenomena akhir zaman. Tak dinyana mungkin kalau Ahmad Thomson sebenarnya adalah seorang mualaf.
Ahmad Thomson masuk Islam 38 tahun lalu. Dilahirkan di Rhodesia Utara (sekarang Zambia), Thomson menempuh pendidikan dasar serta menengahnya di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe). Masa awal hidupnya, ia lalui di daerah-daerah terpencil Afrika yang kala itu belum tersentuh peradaban modern, seperti listrik, gas, dan saluran air bersih.

Sejak remaja, Thomson merasa tidak puas pada ajaran Kristen. Ia mulai mempertanyakan banyak hal seperti, “Jika setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan, lalu mengapa kaum Afrika kulit putih seperti dia harus beribadah di gereja yang berbeda dengan kaum kulit hitam?” Pertanyaan lain yang kerap
mengganggunya sebagai pemeluk Kristen adalah soal ketuhanan Yesus.

 “Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dahulu ia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan dan disalib, lalu siapa yang menghidupi surga dan dunia? Pertanyaan itu tak pernah terjawab selama aku memeluk ajaran Kristen,” ujar lulusan Exeter University, Inggris, ini. Ketika berusia 12 tahun, Thomson sampai pada satu titik di mana ia memercayai Tuhan dan Yesus. “Hanya saja, aku tidak yakin pada gereja.”

Terhenti pada berbagai pertanyaan itu, Thomson mulai membaca apa pun dan memikirkan kehidupan yang dijalaninya sejauh itu. Ia mengunjungi berbagai kelompok spiritual dan mencoba meditasi selama beberapa bulan. “Itu menenangkan, tapi sama sekali tak mengubah gaya hidup saya.” Hingga akhirnya, Thomson bertemu Syekh Abdalqadir as-Sufi (tokoh tarbiyah, penggagas Gerakan Dunia “Murabitun”). Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Islam, agama yang tak pernah terpikirkan oleh Thomson sebelumnya. Saat berbicara dengan Syekh Abdalqadir dan mendengarkan berbagai hal yang disampaikannya, Thomson merasa telah menemukan jalan yang ia butuhkan. “Sejak itu, perlahan saya menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi pikiran,” katanya. Thomson pun rutin mengunjungi pusat kajian Islam Syekh Abdalqadir. Ia juga membaca The Book of Stranger yang ditulis Sang Syekh. Thomson mengikrrakan syahadat pada 13 Agustus 1973. Empat tahun kemudian, ia berhaji empat .

Sepulang haji, ia menyelesaikan pelatihannya sebagai pengacara. Lalu, pada 26 Juli 1979, ia dipanggil ke Pengadilan England & Wales dan mulai meniti karier di bidang advokasi dan hukum Islam. Thomson meyakini cara terbaik mengamalkan ajaran Islam adalah memahami dan meneladani sumbernya, yakni Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. “Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin dekat kita pada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum,” ujar pria kelahiran Afrika ini. Pemilik nama kecil Martin Thomson ini sekarang dikenal sebagai pengacara terkemuka di Inggris. Ia juga mengetuai Wynne Chambers, badan hukum Islam yang didirikannya pada 1994.

 Thomson pertama kali memperoleh perhatian publik pada 2001, saat tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul My Name is Ahmed yang menyabet sebuah penghargaan. Ia pun tampil di film dokumenter lainnya, Prince Naseem’s Guide to Islam. Kedua film itu ditayangkan di BBC2 pada Agustus 2001. Setelah itu, wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam berbagai program, terutama program-program Islam.

 Kini, hari-harinya diisi dengan aneka kegiatan keislaman, mulai dari memberikan ceramah rutin tentang Islam di berbagai wilayah di Inggris, menulis untuk Jurnal al-Kala, sampai menjadi kontributor tetap dalam konferensi lintas agama yang digelar setiap tahun di Masjid Regents Park dan Pusat Kebudayaan. Beberapa buku karyanya yang cukup menggemparkan dan sangat sulit dicari terjemahannya , buku yang membongkar apa dan bagaimana konspirasi Yahudi di dunia ini yang berjudul Dajjal the Anti Christ (Sistem Dajjal). [islampos/wikipedia/facebook]
Sumber : http://www.islampos.com/masuk-islam-ahmad-thomson-ungkap-sistem-dajjal-83263/

----------------
Bacaan Terkait :
APA ITU SISTEM DAJJAL?
***

Wednesday, October 9, 2013

Sharifa Carlo, Ingin Berbuat makar Pd Islam Akhirnya Jadi Muallaf

shariffa carlo2 490x326 Sharifa Carlo, Masuk Islam Karena Makar kepada Islam


AWAL mula Sharifa Carlo masuk Islam adalah sebuah makar. Ia ingin membuat makar terhadap Islam. Namun, manusia membuat makar tinggalah makar. Allah pun mempunyai makar. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pembuat makar.
“Ketika saya masih remaja, saya dengan sekelompok orang menyusun agenda yang sangat jahat. Kami ingin menghancurkan Islam. Ini bukanlah kelompok pemerintah, hanya menggunakan posisi di pemerintahan AS untuk memajukan tujuan.”
Awalnya, Sharifa didekati oleh kelompok itu dengan kover besar advokasi hak-hak perempuan advokat. Sharifa diberitahu bahwa jika dia belajar Hubungan Internasional dengan penekanan Timur Tengah, ia akan dijamin bekerja di Kedutaan Besar Amerika di Mesir.
“Saya pikir ini adalah ide yang bagus . Saya telah melihat perempuan Muslim di TV, dan saya tahu mereka adalah kelompok tertindas yanga miskin, dan saya ingin membawa mereka pada cahaya kebebasan abad ke-20,” paparnya.
Dengan maksud itu, Sharifa masuk perguruan tinggi. “Saya mempelajari Al-Quran, hadits dan sejarah Islam. Saya belajar bagaimana untuk memelintir kata-kata untuk mengatakan apa yang harus mereka katakan. Itu adalah metode yang berharga. Tapi setelah saya mulai belajar, saya mulai tertarik dengan Islam itu sendiri. Tidak masuk akal. Itu sangat menakutkan bagi saya.
Oleh karena itu, dalam rangka untuk melawan efek ini, Sharifa mulai mengikuti kelas pelajaran agama Kristen. “Saya memilih kelas dengan dosen yang memiliki reputasi yang baik dan dia memiliki gelar Ph.D. Teologi dari Universitas Harvard. Saya merasa berada di tangan yang tepat,” jelasnya.
Tapi ternyata bahwa profesor itu adalah seorang Kristen Unitarian. “Dia tidak percaya pada trinitas atau ketuhanan Yesus . Pada kenyataannya , ia percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi,” ujar Sharifa. “Dia mengambil Alkitab dari sumbernya dalam bahasa Yunani, Ibrani dan Aram dan menunjukkan bagaimana kitab-kitab itu diubah. Saat ia melakukan itu, ia menunjukkan peristiwa sejarah.”
Selesai mengikuti kelas itu, Sharifa merasa keyakinannya terhadap agama babak belur. “Tapi saya masih belum siap untuk menerima Islam. Seiring berjalannya waktu, saya terus belajar, untuk diri sendiri dan untuk masa depan saya. Butuh waktu sekitar tiga tahun. Saat itu, saya mulai mempertanyakan Muslim tentang keyakinan mereka. Salah satu orang yang saya tanya adalah seorang Muslim.”
“Alhamdulillah , ia melihat minat saya terhadap Islam, dan mulai memberikan pemahaman tentang Islam. Dia membimbing saya di setiap kesempatan yang muncul dengan sendirinya,” jelas Sharifa lagi.”
Suatu hari, pembimbing Sharifa mengatakan bahwa ada sekelompok Muslim yang sedang berkunjung. “Dia ingin saya bertemu dengan mereka. Saya setuju. Saya menemui mereka setelah shalat malam. Saya dibawa ke sebuah ruangan dengan setidaknya ada 20 orang di dalamnya. Mereka semua memberi ruang bagi saya untuk duduk, dan saya duduk berhadapan dengan seorang pria Pakistan berusia lanjut .
“Masya , orang itu sangat luas ilmunya dalam hal kekristenan. Dia dan saya berdiskusi dan berdebat soal Alkitab dan Quran sampai pagi.”
Pada titik itu, setelah mendengarkan pria Pakistan itu, Sharifa ditawari untuk menjadi seorang Muslim.
“Selama tiga tahun mencari dan meneliti, tak seorang pun pernah menawari saya masuk Islam. Saya telah diajarkan, berdebat dan bahkan menghina Islam, tetapi tidak pernah saya ditawari masuk Islam. Saya sendiri menyadari hal ini hanya soal waktu. Saya tahu itu kebenaran, dan saya harus membuat keputusan.”
“Alhamdulillah, Allah membuka hati saya, dan saya berkata, ‘Ya. Saya ingin menjadi seorang Muslim.”
Orang itu menuntun Sharifa mengucapkan syahadat.  “Saya bersumpah demi Allah bahwa ketika saya mengucapkan syahadat, saya merasakan sensasi yang aneh. Saya merasa seolah-olah begitu besar, saya tersentak, seolah-olah saya bernapas untuk pertama kalinya dalam hidup saya.”
“Alhamdulillah, Allah telah memberi saya hidup baru yang bersih, kesempatan untuk masuk surga, dan saya berdoa agar saya menjalani sisa hari-hari saya dan mati sebagai seorang Muslim. Aamiin.” [sa/islampos/tellmeaboutislam]
Sumber : http://www.islampos.com
***

Tuesday, October 1, 2013

Duta Besar Paraguay, Cesar Esteben G. Yg Jadi Muallaf

JAKARTA. Muslimdaily - Cesar Esteban Grillon, Duta Besar Paraguay untuk Indonesia membaca dua kalimat syahadat, Jumat (27/9). Kesaksiannya sebagai seorang muslim ini dilaksanakan tepat setelah pelaksanaan shalat Jumat, di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat.                                                                             Setelah resmi menjadi muslim, lelaki yang mengaku tertarik dengan Islam dari buku-buku bacaan ini berujar, "Saya akan melakukan yang terbaik. Menunjukkan cara hidup Islam. Saya harus menjadi contoh," ujarnya, dilansir dari vivanews.

Pada awal ditempatkan di Indonesia sejak 2011, lelaki berusia 56 tahun ini awalnya tidak tertarik dengan Islam bahkan mengalami Islamophobi. Namun, sang anak, Andrew menawarinya membaca sebuah buku tentang Islam. Ia mengaku menemukan gambaran persaudaraan sejati dari buku tersebut. Ia juga banyak belajar Islam dari  Quraish Shihab.

Dipertemukan dengan Yulie Setyohadi, Ia mulai mendapat teman yang membimbingnya mengenal Islam lebih jauh. Perempuan seniman ini mengajaknya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Masa-masa itu dijalani dengan mendatangi masjid-masjid dan belajar Islam dari buku dan ulama Indonesia.
Saat mendatangi Masjid Kubah Emas di Depok, seorang fotografer mendatanginya dan bertanya tentang keislamannya. Ia merasa saat itulah hidayah datang kepadanya. "Dia bagaikan malaikat yang dikirimkan Allah untuk saya. Dia membimbing saya soal Islam," kata Grillon.

Pada bulan Ramadhan pun Grillon belajar melaksanakan ibadah puasa. "Bulan Ramadhan kemarin, saya ikut berpuasa. Sebulan saya hanya batal dua kali," ujarnya. Momen buka puasa bersama membuatnya merasakan kehangatan berukhuwwah Islamiyah.
Semangatnya dalam mempelajari Islam membuatnya mantap untuk membaca dua kalimat syahadat. Pada hari pembacaan syahadatnya, Suryadharma Ali, Menteri Agama juga hadir mendampingi. Ikrar syahadatnya dibimbing langsung oleh Ali Musthafa Ya'qub,  Imam Besar Masjid Istiqlal. Sejak mengucapkan syahadat, dia berkomitmen akan menunjukkan pada negaranya, bahwa Islam tidaklah seperti yang diberitakan selama ini.
Keistiqomahaan merupakah hal yang Ia harapkan setelah memeluk Islam. "Ini bukan hanya seremoni belaka, atau sekadar bule masuk Islam. Tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk menjadi Muslim panutan," ujarnya lagi. [linda/mzf]
*Keterangan Gambar: Cesar Esteban Grillon (Vivanews)
Sumber : http://muslimdaily.net
***

Saturday, August 31, 2013

Ini Dia Fans Lady Gaga yang Memilih Jadi Muallaf

Ini Dia Fans Lady Gaga yang Memilih Jadi Muallaf
Seorang remaja putri Amerika mengisahkan perjalanannya menuju hidayah Islam dalam sebuah video Youtube, dilansir dari kabar video onislam dan laman web muslimconvertstory.

 Ia yang merupakan fans berat Lady Gaga itu merasakan bagai terbangun dari tidur panjangnya setelah menemukan Islam. Berderai air mata, gadis cantik berkerudung itupun mengatakan penyesalan yang sangat atas hidup hampanya dengan budaya musik pop.

 

Ketika mengenal Islam, ia merasakan perasaan yang sejuk dan damai bagai lahir kembali ke dunia. "Aku seperti tidur panjang selama 10 tahun. Selama ini aku merupakan fans Lady Gaga, fans budaya pop. Kemudian saat ini, aku merasa terbangun dengan Islam," ujarnya.

Ia memeluk Islam sejak 2004 lalu dan bersyahadat atas keinginannya sendiri. Saat itu usianya baru menginjak 10 tahun.

Sejak lahir, ia memang tak pernah mengenal agama apapun. Namun benaknya selalu diliputi beragam pertanyaan tentang Tuhan. Hingga kemudian secara tak sengaja ia mengenal agama Islam.

Islam pun menjawab pertanyaan tersebut. Setelah bersyahadat, gadis Amerika itu pun sempat bertanya-tanya, mengapa saya menjadi muslim? Namun setelah mempelajari Islam lebih banyak, ia pun menyadari bahwa ia memilih Islam karena agama yang dibawa Rasulullah ini telah membuatnya menjadi sosok yang baik.

"Islam mengajarkanku bahwa manusia dapat menjadi baik. Islam menunjukkanku bahwa aku dapat memilih hal yang benar," ujarnya.

Selain itu, ia juga terpesona dengan cara mudah memeluk Islam, hanya dengan syahadat. Meurutnya, syahadat merupakan hal yang sangat sederhana, namun dapat mengubah hidupnya dengan luar biasa.

"Syahadat merupakan sesuatu yang sangat simpel. Tak ada pesta, tak ada perayaan. Hanya merasakan sangat bersyukur kepada Allah, alhamdulillah," ujar gadis yang enggan menyebut nama tersebut. (rep05)

Sumber:
http://inhusatu.com/index.php/berita/detail/3019/2013/07/16/ini-dia-fans-lady-gaga-yang-memilih-jadi-muallaf
***

Tuesday, July 30, 2013

Bella Saphira Masuk Islam, Dijauhi Keluarga

Beberapa waktu lalu Bella Saphira akhirnya memutuskan masuk Islam dan resmi menjadi seorang mualaf di Masjid Istiqlal. Usai mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima wejangan singkat tentang seorang mualaf, Bella tampak menitikkan air mata.
Namun sikap Bella Saphira yang sangat tertutup membuat banyak spekulasi berkembang. Ia tak mau bicara pada media, aktris cantik tersebut juga dikawal ketat oleh beberapa orang berseragam.
Kehadiran pria yang disebut-sebut akan menjadi calon suami Bella juga menimbulkan dugaan tersendiri bahwa Bella masuk Islam agar bisa menikah dengan kekasihnya. Disinggung mengenai hal ini, Bella menegaskan bahwa menjadi mualaf adalah keinginannya sendiri.
“Saya mau masuk Islam tanpa ada paksaan dari siapapun,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Imam Masjid Istiqlal KH Ali Musthafa Yakub yang membimbing Bella masuk Islam sempat menjelaskan bahwa Bella bersikap tertutup lantaran ada pertentangan dalam keluarganya.

“Saya dapat amanah dari pihak Bella enggak mau dipublikasikan, masih ada pro-kontra di keluarganya, itu saja,” katanya.
Pernyataan yang lebih jelas datang dari Dian, adik sekaligus manajer Bella. Dengan gamblang ia memberitahu media bahwa keluarga tidak ikut campur dan tak mau tahu dengan masalah Bella.
“Sekarang saya sudah bukan manajernya Bella lagi. Untuk wawancara jangan hubungi saya,” ujar Dian saat dihubungi wartawan. “Dari pihak keluarga tidak menyetujui, tidak tahu dan tidak ada hubungannya. Ini bukan pernyataan saya tapi resmi dari pihak keluarga.”

Sumber: sidominews.com




Sumber Video Streaming Oleh : youtube.com
***

Monday, May 27, 2013

Penulis Jerry Gray Mualaf yang Cinta Indonesia

Jerry D Gray, penulis sejumlah buku laris, ternyata seorangmualaf yang sangat mencintai Indonesia dengan mengurus naturalisasinya dari warga AS ke WNI, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Jakarta.

Sejak kecil sampai sebelum pergi ke Arab, saya tidak pernah bertemu Muslim, mendengar suara adzan atau pun melihat masjid. Meskipun demikian saya berkeyakinan bahwa Yesus bukan anak Tuhan. Pada usia 12 tahun saya sudah berpikir tentang Tuhan. Umur 14, sudah mulai malas ke gereja. Saya malas pergi ke sana karena tempat itu tidak dapat menghilangkan dahaga saya tentang Tuhan. Saya bosan setiap kali datang selalu disuguhi dengan banyak ucapan haleluya. Padahal yang saya butuhkan adalah pencerahan siapa itu Tuhan dan kejelasan misi hidup saya di dunia ini untuk apa.
Saya percaya adanya Tuhan dan mau masuk surganya Tuhan. Tapi dari agama ini saya mencium something wrong karena saya harus meyakini Yesus sebagai anak Tuhan. Untung saja nenek di rumah sering banyak cerita tentang Tuhan, sehingga saya lebih suka mendengarkan nenek. Selama saya belajar agama kepadanya, ia tidak pernah bilang bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun sebaliknya, di gereja saya selalu disalahkan, karena tidak mau mengakui Yesus sebagai anak Tuhan.
Kalau Yesus menjadi anak Tuhan, mengapa Musa, Ibrahim dan Adam tidak menjadi anak Tuhan? Padahal, kalau mau, justru Adamlah yang paling berhak menjadi anak Tuhan karena dia tidak punya ibu dan bapak. Keyakinan saya bertambah setelah membaca kisah Musa yang memaksa ingin melihat Tuhan.
Musa akhirnya dibolehkan melihat sedikit cahaya Tuhan dari gunung granit yang sangat gelap. Baru saja merefleksikan sedikit cahaya Tuhan, langsung gunung itu goyang-goyang dan sangat menyilaukan, Musa pun pingsan. Berdasarkan kisah itu, kalau benar Yesus anak Tuhan, pasti orang yang melihat Yesus bakal mati atau pingsan. Ini kan tidak, berarti Yesus bukanlah anak Tuhan!

Hampir Nangis
Saya selalu berdoa agar saya diberi petunjuk yang benar tentang Tuhan. Usai mengikuti wajib militer di angkatan udara, saya ditawari menjadi maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi. Saya tolak karena saya takut dibunuh orang Islam. Lebih baik saya menganggur.
Saya tinggal di dalam mobil di ujung satu dermaga di Hawaii. Setiap hari mancing. Bila dapat ikan, saya makan, bila tidak saya kelaparan. Paling hanya minum dari kran air putih yang ada di situ.
Enam bulan begitu terus. Pernah tiga hari berturut-turut saya tidak makan sama sekali, hanya minum saja karena tidak dapat ikan. Tapi saya tidak mau bunuh diri. Saya menangis, memohon, agar Tuhan memberikan jalan keluar.
Namun tawaran tersebut datang lagi. Saya mengira Tuhan telah marah kepada saya. Karena saya tidak mendapatkan pekerjaan lain, malah disuruh ke Arab. Akhirnya teman memberikan saran kepada saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun berangkat ke sana.
Di Jeddah saya melihat kejadian-kejadian yang sangat luar biasa, yang sangat berbeda dengan bayangan saya sebelumnya. Ternyata orang Islam begitu taat kepada Tuhannya dan baik kepada saya. Ketika mendengar adzan mereka langsung meninggalkan aktivitasnya untuk segera shalat.
Begitu juga ketika saya ke toko emas. Saya dengar adzan. Pintu toko emas terbuka. Padahal di toko tersebut tidak ada orang. Siapa pun yang berniat mencuri emas, akan sangat mudah mengambilnya. Tapi kok ini dibiarkan? Saya berdiri saja di depan toko itu menunggu penjual emas muncul.
Setelah adzan, jalanan mendadak sepi dari lalu lalang manusia. Penjaga keamanan tidak ada. Paling sekali-kali saya melihat polisi menegur beberapa orang yang sedang lewat untuk segera shalat.
Tak lama kemudian, pemilik toko itu datang dan berkata “Mengapa tidak masuk?” Saya jawab, “Tidak mau”. “Kenapa tidak mau?” tanyanya. “Saya takut disangka maling, nanti tangan saya dipotong,” jawab saya karena setahu saya orang yang mencuri tangannya akan dipotong. Biasanya orang bule yang datang ke Jeddah diundang untuk menyaksikan pemotongan tangan bagi pencuri setiap Jum'at siang.
“Masuk saja, karena semua ini adalah Allah yang punya, bukan punya saya,” kata pemilik toko itu. “Apa pun, kamu perlu, ambil! Mungkin kamu lebih membutuhkan itu daripada saya?” lanjutnya. Ia mengatakan bahwa semua itu milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Saya terharu dan mau menangis mendengar ucapan yang tulus itu. Saya sangat ingin punya iman seperti itu. Dengar adzan dia shalat. Orang mau mengambil atau tidak mengambil hartanya, dia tidak ada masalah. Yang penting ketika Allah menyuruh shalat dia berangkat shalat dan semua hartanya itu dia pasrahkan kepada Allah.

Masuk Akal
Peristiwa itu membuat saya jadi tertarik untuk mengetahui agama Islam lebih lanjut. Saya jadi banyak diskusi tentang Islam. Termasuk dengan Ahmad, salah seorang anggota Angkatan Udara Arab Saudi. Saya diberinya Alquran dengan terjemah bahasa Inggris.
Ia tunjukkan ayat yang menyatakan Isa anak Maryam adalah hamba dan utusan Allah, bukan anak Allah. Ahmad menyebut Isa itu adalah nama lain dari Yesus, sedangkan Maryam sebutan lain dari Bunda Maria.
Kurang lebih tiga ayat saya baca. Saya tidak kuat lagi meneruskan membacanya, karena saya mau menangis. Saya tidak mau menangis di depan orang. Saya sangat yakin, inilah jawaban dari Tuhan. Rupanya saya disuruh ke Jeddah itu bukan karena Tuhan marah, tapi karena Tuhan mengabulkan doa saya.
Kemudian temannya Ahmad, yang bernama Rosyid datang ke rumah. Dia memberi tahu bahwa di salah satu masjid di Jeddah malam itu dimulai lagi sekolah Islam yang menggunakan bahasa Inggris.
“Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang Islam datanglah ke masjid tersebut, nanti saya antar,” kata Rosyid. Di sekolah itu terjadilah diskusi. Hati saya berdecak kagum. Luar biasa, pintar sekali guru ini. Semua yang dia katakan masuk akal. Argumennya begitu spiritually and lightening.
Dia mengatakan bahwa Tuhan itu satu bukan tiga, semua adalah ciptaan Tuhan dan bergantung kepada Tuhan. Tuhan tidak beranak tidak pula punya orangtua. Tidak ada yang dapat menyerupai Tuhan. Serta manusia hidup di dunia ini untuk mengabdi kepada Tuhan saja. Belum satu jam pun diskusi, sebenarnya hati saya sudah menerima Islam. Hanya saja saya belum mau menyatakan pada guru.
Malam itu saya tidak bisa tidur. Terus merenungkan ucapan guru. Akhirnya di hari ketiga saya putuskan masuk Islam. Saya ucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu guru berdiri dan cium pipi kanan kiri saya. Guru mengajak semua orang yang ada di situ antre untuk cipika-cipiki saya. Saya kaget mendapat perlakuan itu. Kemudian saya mengerti bahwa itu adalah ungkapan senang luar biasa dari sesama Muslim.

dan kini setelah tinggal di indonesia ,
"Bagi saya Indonesia itu ibarat surga. Saya sudah ke banyak negara dan di sini saya mendapatkan kedamaian bergaul dan berinteraksi sosial dengan komunitas Muslim terbesar di dunia," ujar Jerry, di Bekasi, Minggu.

Beristrikan seorang perempuan Tasikmalaya dan dikaruniai seorang anak laki, Jerry menyatakan memiliki banyak kegiatan di Indonesia yang membuat dia makin betah yaitu memberikan pengajian, berbagi pengalaman dan menulis buku.

Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D. Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu, ternyata seorang mualaf yang tekun beribadah.


Bagi penulis sejumlah buku di antaranya "Deadly Mist", "Demokrasi Barbar ala AS` dan "Dosa-dosa Media Amerika" itu, ketertarikan terhadap Islam dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali diturunkan kepada Rasul Allah SWT.

Sebagai AU yang ditugaskan di Arab Saudi, ia melihat betapa khusyuk dan ikhlasnya orang menjalankan shalat hingga mau meninggalkan segala aktivitas mereka termasuk berkaitan dengan uang sekalipun.

"Ketika mengalun suara adzan, dipinggir jalan orang pada shalat, karyawan toko dan mall semua shalat dan barang dibiarkan begitu saja namun tidak ada yang hilang. Semua melaksanakan shalat dengan khusuk," ujar Jerry, yang pernah selama 2,5 tahun menjadi wartawan di sebuah TV swasta di Indonesia itu.

Ia menjadi bingung sekaligus takjub. Setelahnya kesadaran untuk mengenal ajaran Islam langsung tak tertahankan. Ia melihat cahaya iman justru setelah melihat orang-orang melaksanakan Shalat.

Jerry mengaku ketika pertama kali memegang kitab suci Al Qur`an badannya langsung merinding, ketika akan membaca hatinya bergetar dan sejurus kemudian suara tangis mengiringinya membaca terpatah-patah ayat Al Qur`an.

Setelah hatinya merasa mantap ia kemudian memilih menjadi mualaf di Arab Saudi. Keislamannya belum serta merta jadi mantap. Ia pertama kali hanya melaksanakan shalat dua kali dalam seminggu.

"Ketika tertimpa musibah saya bawa shalat, ternyata saya dapatkan ketenangan dan musibah hilang. Setelah itu saya makin rajin shalat," ujar Jerry yang kini berisitrikan wanita asal Tasikmalaya Jabar itu.

Kini dalam kesehariannya, Jerry seringkali dimintai pandangan-pandangannya tentang Islam, demokrasi, dan terorisme. "Islam itu agama rahmatan lil alamin dan orang Islam bukanlah teroris," ujar ayah satu anak itu.

Bagi mantan wartawan CNBC itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia merupakan surga yang ada di dunia. Ia pun kini tengah mengurus naturalisasi dengan menjadi WNI sebagai ranah perjuangannya terhadap Islam. - ant/ahi/RioL

Biodata
Nama : Jerry Duane Gray
Lahir : 24 Sept 1960 di Wiesbaden, Jerman. Umur 3 tahun pindah ke Amerika
Pendidikan : Insinyur Penerbangan Universitas Hawaii, Amerika.
Mualaf : Masuk Islam dan naik haji (1984)
Istri : Ratna Komala (orang Garut)
Anak : Adam Kusuma Gray (8 tahun)

Pengalaman Kerja
1978-1982 : Angkatan Udara Amerika Serikat.
1982-1984 : Maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi.
1978-1984 : Mendapat 30 ijazah menyelam dan instruktur selam internasional.
1985-kini : Pindah ke Jakarta. Wartawan lepas, membuat foto/video pemandangan bawah laut, dan penulis buku.







dan ini salah satu karyanya :

sumber :swaramuslim dan mediaumat, berita muslim.com
***

Friday, May 3, 2013

Kenapa Anda Memilih Islam? Jawaban: Bacalah Injil Halaman ke Halaman

K isah saya bermula pada tahun 1979. Kisah dimana saya dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat religius. Sebelum memeluk agama Islam, keluarga kami menganut Ortodoks Katolik Roma. Keluarga amat memahami dan secara aktif terlibat dalam urusan gereja. Kami punya pendeta, biarawati dan misionaris sebagai bagian dari keluarga kami.

Kakek saya merupakan pendiri gereja di Kerala, India. Keluarga saya berpegang kepada idealisme. Kami mencintai Pencipta kami walaupun telah menyimpang dari jalan benar, dan senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang baik.

Kami bangga dengan diri kami sebagai orang-orang yang beriman dan yang terbaik di kalangan kami ialah ibu kami. Dalam banyak hal ibu kami dijadikan sebagai model terbaik untuk wanita-wanita lain oleh pendeta kami. Ibu kami adalah model bagi wanita Kristiani. Dia membaca injil secara rutin dan mengamalkan agama ini dengan sungguh-sungguh.

Untuk memulai kisah, ibu saya memiliki beberapa pengalaman spiritual yang menimbulkan rasa tidak puas hati dengan agama kristen. Dia mengalihkan pandangannya kepada Injil untuk mendapatkan jawaban. Sayangnya ia hanya membawanya lebih jauh dari apa yang dianggap mulia baginya.

Pada masa tersebut, seorang pengacara bermana Ibrahim Khan bekerja dengan ayah dan ibu saya sebagai penasihat legal, itupun dalam jangka masa yang singkat karena pengacara kami libur, sementara ayah dan ibu saya memerlukan nasihat berhubung masalah bisnis.

Sebagai seorang muslim yang berpengetahuan, dia telah memperkenalkan Islam kepada ibu saya dan beberapa pekan setelah itu, ibu saya memeluk agama Islam. Ketika itu usia saya sekitar 13 tahun.

Kondisi saya agak membingungkan, sebab saya adalah anak sulung. Keluarga saya berpisah karena ibu saya merasakan bahwa perkawinan tersebut telah menjadi kosong dan sia-sia. Saya membenci Islam karena saya yakin Islamlah yang menyebabkan perpecahan terjadi dalam keluarga saya. Ayah saya juga akhirnya meninggalkan kami. Sekalipun demikian, anehnya, saya amat suka dengan suara azan.

Pada waktu itu saya membenci Islam dan saya bisa menjadi apa saja selain muslim. Sekalipun demikian, saya amat menghormati dan mencintai ibu saya. Saya sungguh-sungguh tidak faham kenapa ia bisa berubah begini.

Saya ingin sekali memahami kenapa ia memilih Islam, sebagai seorang perempuan yang berpendidikan, lalu memilih agama kuno semacam Islam. Suatu hari saya bertanya kepadanya, jawaban yang diberikan sangat mudah. “Bacalah Injil dari halaman ke halaman.”

Dari situ dimulailah perjalanan spiritual saya. Benar, saya masih muda, tetapi Tuhan telah memberikan saya kedewasaan untuk memahami apa yang saya baca. Saya menemui begitu banyak sekali inkonsisten dan kontradiksi dalam Injil. Saya menemui perkara-perkara yang disebutkan dalam Injil, tetapi tidak dipatuhi oleh umat Kristen.

Saya juga menemui perkara-perkara yang saya rasakan tidak masuk akal. Saya menemui persyaratan perjanjian yang
tidak dipatuhi. Lebih aneh lagi, saya bahkan menemui ayat yang menyebutkan tentang Nabi Muhammad Saw. Tetapi saya begitu keras kepala dan enggan untuk menerima kebenaran ketika
itu.

Saya tetap mempelajari Kristen dan mula mempelajari perbandingan agama tetapi mengelakkan diri dari mempelajari Islam. Pada waktu-waktu itulah ibu saya mengirimkan saya surat dan terjemahan al-Ikhlas dan ia menjadi satu daya tarik yang kuat bagi saya.

Saya membaca terjemahannya sepanjang hari dan berulang-ulang kali. Ia menjadi seperti tasbih buat saya. Sehingga pada akhirnya tidak ada lagi ayat atau kata-kata lain yang bisa memuaskan hati saya. Akhirnya saya berpaling pada al-Quran dan benar-benar terpesona dengan keindahannya!. Inilah kebenaran yang selama ini saya cari!.

Di sini semua persoalan saya terjawab! Saya tahu bahwa saya telah menemukan nasib saya. Saya telah mempelajati Islam selama 2 tahun dan saya benar-benar bersyukur. Ketika itu usia saya sekitar 15 tahun.

Saya memeluk agama Islam di Bandara Bombay! Ketika itu saya ke bandara untuk menjemput ibu saya dan saya ingin ia menyaksikan keislaman saya. Ia mengaku bahwa dia telah berdoa supaya saya diberikan hidayah, supaya saya dia tidak menerima bantuan, saya akan menjadi pendukungnya. Allah telah mengaruniakan anugerah-Nya. Allahu Akbar.

Pada masa itu, saudara lelaki dan perempuan saya masih muda untuk mengikuti jejak langkah saya dan menerima Islam. Kami terpaksa berhijrah ke Bombay, kami bimbang ada orang tertentu yang akan memisahkan kami tiga beradik dengan ibu kami. Kami yakin bahwa jika kami berada di Kerala, kami tidak akan dapat mengamalkan ajaran Islam.

Hanya dengan berhijrah ke Bombay, masalah ini dapat diatasi. Masya Allah! Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Umat Islam di sini menyambut kami dengan tangan terbuka.

Kami belajar bahasa Arab. Kami menamatkan pelajaran dan kini kami juga mempunyai rumah. Alhamdulillah. Ayah kami juga akhirnya pulang ke pangkuan kami, walaupun ia masih lagi menganut agama Katolik Roma. Sekalipun demikian, kami tetap sayang padanya dan ini juga merupakan bagian dari keputusan yang kami buat bersama.

Ia juga mempelajari Islam dan amat menghormati agama, cara hidup dan apa yang kami amalkan. Ia menjadi tonggak pembantu kami dan walaupun ia sendiri tidak memeluk agama Islam, ia telah membesarkan kami tanpa mencampuri urusan agama kami.

Ia sering melindungi kami dan senantiasa berada di sisi kami. Karana masih banyak anggota keluarga kami yang masih memusuhi Islam, walaupun mereka terpaksa menerima bahwa kami akan tetap memegang agama Islam. InsyaAllah. Memang ada kalanya kami masih menerima e-mail menyuruh kami kembali menjadi kristian. Tapi hal ini semakin berkurang belakangan ini.

Baru-baru ini kami pulang ke Kerala untuk menemui kakek dan nenek kami. Memang kami rasakan gembira mengunjungi tempat kami dibesarkan. Kami kuat dengan iman yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kami dan Alhamdulillah, Tuhan telah memberikan kami kekuatan untuk menghadapi semua pancaroba ini. Mungkin satu hari nanti kami bisa pula mendirikan sebuah masjid dan pusat pengajian Islam di sini. Insya Allah.
 
 
***
****