Selasa, 01 Oktober 2013

Kaum Rohingya, Dibuang di Laut, Diacuhkan Sesama Muslim — Opini Mahathir Muhammad

MuslimDaily.net - 21 Sept  – Jika anda ingin berkelahi maka pilihlah orang yang bisa       dihajar. Jika anda melakukan ini anda akan selalu menang. Tetapi anda bersedia disebut pelakubullying (penindasan). Itu tak jadi persoalan.


Yang lemah hari ini adalah Muslim. Dan umat Islam lemah karena mereka memilih untuk menjadi lemah. Saya mengatakan “mereka memilih” karena Allah tidak hanya memberi mereka sebuah agama yang baik, agama dengan nilai-nilai tinggi yang bila dipraktekkan akan membuat mereka kuat dan dihormati, tetapi Allah juga telah memberikan sumber kekayaan yang memungkinkan mereka untuk memiliki kehidupan yang baik tanpa melakukan apa-apa. Dengan uang mereka bisa menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan untuk mereka.
Karena semua umat Islam lemah dan dapat dibully oleh siapapun. Dan ketika mereka di-bully tidak ada satupun, jelasnya tidak ada saudara-saudara Muslim mereka yang akan datang untuk membantu mereka. Jadi, setiap kali pelaku bullying ingin mem-bully ia akan selalu memilih umat Islam.
Hampir semua negara Muslim dan rakyatnya dalam kesulitan saat ini. Yang terbaru adalah Rohingya dari Myanmar. Mereka sudah ada di negara bagian Rakhine Myanmar selama berabad-abad tetapi sekarang mereka diberitahu oleh Myanmar bahwa mereka bukan pribumi, bahwa Myanmar bukan tanah mereka. Mereka dipaksa untuk meninggalkan rumah dan negeri mereka sendiri, melarikan diri dengan perahu bocor, kelebihan muatan dan rentan menjadi rusak dan mereka akan tenggelam. Semua negara menolak untuk membantu makhluk malang ini dan mereka beserta perahu bocor mereka didorong kembali ke laut. Tentu saja tidak ada negara Muslim yang telah mengajukan protes terhadap Pemerintah Myanmar karena membiarkan kekerasan terhadap Muslim Rohingya.
Anehnya, kali ini para pem-bully-nya adalah biksu dari Myanmar. Hal ini aneh karena penganut Buddha dikatakan melawan kekerasan. Dan biksu Budha tentu harus tahu tentang non-kekerasan Buddhis. Mereka seharusnya membenci pembunuhan, khususnya pembunuhan sesama manusia. Namun biksu Budha memimpin serangan keji terhadap Muslim Myanmar, membakar rumah-rumah mereka, mengejar Muslim ketika mereka melarikan diri dan memukuli mereka sampai mati dengan tongkat kayu yang berat. Mereka menjarah rumah-rumah dan toko-toko dengan impunitas(tanpa bisa dijerat dengan hukum, -red).

Dan mereka melakukan semua ini di negara bagian Rakhine dan Myitlenna dalam pengawasan penuh dari polisi dan bahkan militer. Polisi dan militer tidak melakukan apa pun, tidak menghentikan kekerasan dan pembunuhan.
Adapun Pemerintahnya, mereka dengan mudahnya menjelaskan bahwa mereka (kaum Rohingya) adalah orang-orang Bangladesh seolah-olah ini membenarkan kebrutalan yang dilakukan terhadap mereka.
Kaum Muslim di seluruh dunia lemah. Tentu mereka tidak mengajukan keberatan yang berarti dalam melawan kekejaman. Seolah-olah umat Islam hanya peduli pada diri mereka sendiri dan bukan saudara-saudara mereka, meskipun Islam memerintahkan persaudaraan seluruh umat Islam.
Karena umat Islam tidak peduli satu sama lain atau untuk Islam jadi siapa pun bisa menghajar Muslim manapun sampai mati dalam pandangan penuh dari umat Islam lainnya. Saya merasa kasihan untuk Rohingya.Saat ini adalah giliran mereka. Kami Muslim di Malaysia pikir ini tidak akan terjadi pada kita. Jadi mengapa kita harus peduli tentang apa yang terjadi pada Rohingya. Ini adalah masalah mereka, bukan masalah kami. - chedet.cc
**Tun Dr. Mahathir Mohamed (Perdana Menteri Malaysia keempat)
Sumber &Terjemahan dari themalayonline.net untuk muslimdaily.net


0 komentar:

Posting Komentar