**

Tuesday, July 23, 2013

Ramadhan Spesial Bagi Mualaf di Amerika

BOSTON, muslimdaily.net, - Menciptakan suasana kekeluargaan yang dikhususkan bagi para mualaf baru di bulan Ramadhan, sebuah pusat Islam di Boston menyelenggarakan buka puasa mingguan bagi masyarakat, memberikan kesempatan bagi mualaf untu berbagi pengalaman mereka, belajar, dan beribadah bersama.

"Ini bukan Ramadhan pertama kali saya, tapi saya bukan bagian dari masyarakat pada Ramadhan lalu dan ada yang besar, perbedaan besar," kata Brian Buzby kepada teman-temannya sesama mualaf, Boston Globe melaporkan pada hari Sabtu, 20 Juli, demikian sebagaimana dilansir onislam.net.

Buzby, yang masuk Islam sekitar setahun ini, menggambarkan bagaimana ia mengalami sakit kepala pada hari pertama Ramadhan dari akibat kafein dan dehidrasi ringan.

Meskipun ia suka shalat Taraweh di masjid, ia masih memiliki ketakutan tentang berpuasa sepanjang hari.

"Saya bahkan tidak tidur sebelum sahur," kata mahasiswa 30 tahun kepada sekelompok kecil rekan mualaf yang berkumpul di Islamic Society of Boston Cultural Center pekan lalu.

"Saya pulang dan saya terus makan," ia menambahkan yang membuat gelak tawa.

"Kami masih di awal," ujar guru mereka, Hossam AlJabri, ambil tersenyum.

"Tapi Ramadhan hanya terus memberikan hal-hal indah pada Anda."

Namun, beberapa mualaf kehilangan semangat kebersamaan saat Ramadan, karena tidak memiliki keluarga untuk berbagi sahur atau berbuka puasa bersama.

Untuk mengatasi tantangan ini, Islamic Society of Boston Cultural Center, telah bekerja untuk membantu para mualaf menikmati Ramadhan.

"Terutama bagi mualaf yang berada di tidak kuliah, belum menikah, dan tidak memiliki kelompok dukungan sosial yang kuat, saya pikir masjid menjadi tempat di mana mereka bisa datang dan mendapatkan rasa kekeluargaan," imam William Suhaib Webb, yang dulu juga merupakan mualaf.

"Dan Anda merasa jauh lebih baik secara spiritual, Anda benar-benar lebih sensitif terhadap orang di sekitar Anda," kata William Suhaib Webb mengenai arti Ramadhan.

Mengulurkan tangan membantu para mualaf, pusat Islam di Boston tersebut membantu mereka untuk menikmati Ramadhan.

"Saya merasa seperti saya memiliki banyak energi dari kegembiraan ini," kata Jenna Laib, seorang guru matematika dari Somerville.

"Saya merasa benar-benar terangkat."

Leanne Scorzoni, yang dibesarkan Katolik dan mualaf baru, belum memberitahu sebagian besar keluarganya tentang agama Islam barunya.

Buka puasa bersama di Boston ini, dia dikelilingi oleh teman-teman yang menawarinya komunitas yang ia rindukan.

"Saya merasa lebih dibanding teman-teman saya dari negara lain, karena keluarga mereka tidak ada di sini. Mereka ada di sini karena pekerjaan atau sekolah, dan mereka tidak dapat melihat mereka, kecuali dengan Skyping," katanya.

AlJabri menyarankan murid-muridnya untuk bersabar dengan orang tua mereka, ketika mencoba untuk menjelaskan praktik keagamaan  baru mereka untuk non-Muslim.

"Bagian yang paling mengesankan dari Ramadhan bukanlah sebuah tantangan melainkan perjalanan spiritual," katanya.

"Perasaan bagi banyak dari mereka pada akhir bulan ini," Saya berharap ada dua bulan Ramadhan. '" [ahr]
Sumber: Muslimdaily.net
***

No comments:

Post a Comment