Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Pilu, Warga Rohingya di Perairan Aceh Utara

KISAH pilu yang menyertai perjalanan 121 manusia perahu asal Rohingya. Mereka selama 10 hari terombang-abing diperairan Aceh Utara dan diselamatkan oleh petugas imigrasi. Mengisahkan jadi korban kebiadapan tentara otoritas Thailand. Kapal mereka ditembaki hingga 12 nyawa melayang, selanjutnya terpaksa dihanyutkan ke tengah laut.

Dengan sejumlah pengungsi yang  kini ditampung di Penampungan sementara Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Peuntut, Kecamatan Blang Mangat, Rabu (27/2/2013).

“Awalnya kami berjumlah 133 orang, 12 diantaranya tewas ditembak polisi Thailand yang berada di laut, boat kami yang besar diganti dengan boat kecil tanpa mesin kemudian diseret ke tengah laut, setelah itu ditembak dari jarah jauh, semua yang tewas adalah laki-laki dewasa, sedangkan anak-anak dan wanita semua selamat,” ujar Farid Alam (21) terbata-bata dengan dialek melayu Malaysia.

Menurut pria asal Desa Raya Zadim Fara salah satu perkampungan etnis Rohingya di Distrik Arakan, Myanmar itu, mengaku otoritas Thailand juga mengambil dan membuang semua logistik, diantaranya makanan, pakaian dan air minum yang disimpan dalam boat ke laut. Saat diseret ke tengah laut, mereka semua pasrah dan tidak berani melawan karena takut ditembak.

“Boat kami yang besar dan mesin ditembak hingga tenggelam, kemudian kami dipindahkan ke boat kecil. Setelah itu boat kami  ditarik oleh boat patrol dengan cara diikat, dibagian depan hingga ke tengah laut. Baru kemudian ditembaki hingga bolong-bolong. Supaya tidka tenggelam, lalu disumpal dengan baju, namun aksi pemberondongan tersebut membuat 12 saudara kami tewas,” katanya dengan nada sedih.

Hal senada juga diakui, Samsul Alam (35)warga  asal Desa  Paung Pagri yakni desa tetangga Raya Zadim Fara. Pria yang mengaku tujuannya mengungsi dan  meninggalkan enam anak dan satu istri itu, untuk mencari daerah muslim yang bisa ditinggali. Tujuan utama mereka adalah Malaysia dan Indonesia. Namun malang,  semua makanan yang dia siapkan untuk perjalanan jauh, ludes bersama kapal yang ditenggelamkan oleh Polisi Thailand.

Menurutnya, 133 orang yang berasal dari beberapa desa diantaranya, Paung Pagri, Kyauk Chung dan Raya Zadim Fara berangkat secara diam-diam dan berkumpul di satu lokasi aman, kemudian mereka berangkat pada malam hari agar tidak diketahui oleh warga Myanmar yang mayoritas beragama Buddha  dan petugas militer yang selama ini membantai mereka.

“Sepuluh hari kami tidak makan dan minum, kalaupun ada sangat sedikit dan itu kami berikan untuk wanita dan anak-anak, kami sangat senang tiba di sini, dan kami berharap tidak dipulangkan ke Myanmar,” katanya dengan tangan memohon.(JPNN)

Sumber: Pelita Online.com

0 komentar:

Posting Komentar