Kamis, 28 Maret 2013

Mengapa Barat Memilih Ateis? (bagian 1)

Oleh:  Kholili Hasib 

BELUM lama ini, sebuah kelompok bernama Freedom From Religion Foundation (FFRF) menuntut Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk menghilangkan slogan "In God We Trust" (Kepada Tuhan Kami Percaya, red) dari semua mata uang AS. Menurut FFRF, slogan "In God We Trust" menyinggung warganegara AS yang tidak menganut agama atau ketuhanan.
FFRF beserta dengan 19 penuntut lainnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri AS untuk Wilayah Selatan New York (01/02/2013).
Penggugat berargumen bahwa slogan yang tercantum di mata uang Negeri Paman Sam tersebut melanggar Amandemen Pertama dan Kelima UUD AS serta Religious Freedom Restoration Act tahun 1993.

 Penggugat menyatakan bahwa slogan "In God We Trust" menyinggung dan menyerang kaum ateis, agnostik, humanis sekuler, pemikir bebas, dan skeptik. Setiap kali menggunakan mata uang AS, mereka terpaksa membuat pengakuan yang tidak sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.

"In God We Trust" sesungguhnya dianggap sebagai frase yang berbau agama," kata Dan Barker, wakil presiden FFRF untuk daerah Wisconsin, dikutip Christian Post.


Meningkatnya pengikut Ateis
Masyarakat Barat tampaknya masih terus dilanda krisis teologi yang serius. Di Amerika dan Inggris, dalam sebuah riset terbaru menunjukkan, prosentase orang yang tidak percaya Tuhan meningkat.
Di saat jumlah penganut Ateis meningka, jumlah penganut Kristen di wilayah England dan Wales menurun 13 persen dalam waktu 10 tahun terakhir. Ditemukan bahwa 25,1 persen orang mengidentifikasi diri mereka sebagai Ateis (non believers) naik dari 14,8 persen satu dekade sebelumnya. Jumlah kaum Ateis meningkat di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.
Sebuah survei tahun 2005 yang diterbitkan dalam Encyclopedia Britannica menempatkan Ateis pada sekitar 11,9 persen dari populasi dunia. Sebuah survei Uni Eropa resmi baru-baru ini mengatakan bahwa 18 persen dari penduduk Uni Eropa tidak percaya pada Tuhan.
The Washington Post melaporkan pada bulan September 2012, Ateis adalah gerakan yang tumbuh di seluruh Eropa, mempengaruhi politik dan media massa.
Sensus baru ini juga menemukan bahwa jumlah orang Kristen mengalami penurunan di Inggris. Andrew Copson, Chief Executive dari British Humanist Association, mengatakan  bahwa penurunan jumlah orang Kristen adalah 'benar-benar signifikan'.

Ada lebih dari 47.000 gereja di Inggris, dan 42 juta warga Inggris pemeluk Kristen. Lebih dari 70 persen dari populasi, menganggap diri mereka Kristen. Dalam sebuah studi yang dirilis pada tahun 2005, Christian Research yang berbasis di Inggris, menemukan bahwa  jumlah orang Kristen yang menghadiri ibadah Minggu turun dua pertiga selama tiga dekade berikutnya.
Penelitian dari The Future of The Church, memperkirakan dari total jumlah orang Kristen 9,4 persen akan turun menjadi 5 persen pada tahun 2040. Penelitian ini juga memperkirakan karena kehadiran jemaat ke gereja yang terus menurun, akan memaksa sekitar 18.000 gereja untuk ditutup. [baca: Islam jadi Agama Tercepat di Inggris dan Amerika]
Alhasil, Ateisme pun sekarang menjadi tren orang Barat.Paham Ateisme dapat dilacak akarnya pada zaman pencerahan (reneissance) Eropa. Reneissance bagi Barat adalah momentum untuk bangkit, keluar dari zaman kegelapan (The Dark Age).
Selama ratusan tahun mereka seakan hidup dalam penjara yang begitu gelap. Copernicus (1473-1543) dan Galileo (1564-1642) dihukum karena pendapatnya tentang teori heliosentris bertentangan dengan Gereja.

Gugatan Barat terhadap agamanya juga dipicu oleh kebingungan mereka dalam merumuskan makna religion dan konsep ketuhanan Yesus. Karen Amstrong dalam The Story of God mengatakan Tuhan adalah abstrak dan penjelasan-penjelasan yang ada membosankan.
“Semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit” kesimpulan Amstrong.

Tuhan Yesus pun diragukan eksistensinya. Doktrin Trinitas yang sulit dipecahkan membuat ilmuan Barat bertambah confuse. Bahkan pada titik ekstrim, mereka putus asa mendiskusikan tentang Tuhan dengan mempertanyakan keberadaan Yesus. Groenen dalam Sejarah Dogma Kristologi:Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen menyimpulkan, kemisteriusan Yesus tidak dapat dijangkau akal. Bahkan ia mempertanyakan apakah Yesus itu ada atau tidak.

Seorang teolog Kristen, Schleiermacher, secara kritis menyatakan bahwa doktrin Kristen tentang ketuhanan membuat keimanan menjadi rentan terhadap skeptisisme. Ia menggugat adanya tuhan tiga. Menurutnya konsep ini adalah dogma yang tidak masuk akal. Bahkan karena begitu putus asa, Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan telah mati.

Menurut Nietzche, kematian Tuhan akan mendatangkan fase sejarah manusia yang lebih baru dan lebih tinggi. Ia menganjurkan agar manusia membebaskan dirinya dari bayang-bayang Tuhan. Manusia, menurut  Nietzche, harus menjadi Tuhan agar ia bisa menentukan nasibnya sendiri.*/bersambung bagian kedua
 
Penulis adalah peneliti dari InPAS Surabaya

Sumber : HIdayatullah.com



0 komentar:

Posting Komentar