Rabu, 06 Maret 2013

Jupe atau Julia Perez telah ditetapkan sebagai buronan untuk dijebloskan ke penjara

  • Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim)  terus melakukan upaya penangkapan secara intensif agar Jupe dapat ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu.
  • Jupe campuradukkan keimanan dengan kemaksiatan. Seperti dilansir detik.com, artis Julia Perez punya nazar bila follower Twitter-nya mencapai satu juta. Ia berjanji akan berjoget ala penari striptease di lampu merah Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
  • Dalam sebuah acara Talk Show di satu televisi nasional, Julia Perez atau lebih dikenal dengan nama Jupe ditanya soal keinginannya menjadi titisan Suzanna. Jupe menjawab bahwa keinginannya ini karena kehendak Allah.
  • Julia Perez ditetapkan menjadi buron oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Timur atas kasus penganiayaan terhadap Dewi Persik.
Inilah berita dan sorotan terhadap Jupe
***
Buron, Julia Perez Dinilai Belum ke Luar Negeri
JAKARTA — Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim) hingga kini belum berhasil menangkap Julia Perez yang telah ditetapkan sebagai buronan. Bahkan, Kejari Jaktim belum mengetahui keberadaan pemilik nama asli Tuli Rachmawati itu.
“Sejauh ini masih nihil, belum ada perkembangan yang berarti terkait keberadaan Julia Perez. Tetapi kami tetap berusaha dan mengupayakan yang terbaik untuk menangkapnya,” kata Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Jaktim Hutamrin di Jakarta, Kamis (28/2/2013).
Hutamrin juga memastikan Jupe, sapaan akrab Julia Perez, belum melarikan diri ke luar negeri.
“Saya bisa memastikan bahwa dirinya (Jupe) tidak melarikan diri ke luar negeri. Tidak sampai sejauh itu, kami sudah koordinasikan dengan pihak Kantor Imigrasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan upaya penangkapan secara intensif agar Jupe dapat ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu. “Kita lihat perkembangannya nanti di lapangan,” tegasnya.
solopos.com/ Kamis, 28 Februari 2013 15:01 WIB | Wahyu Kurniawan
***
AUG
JAKARTA (gemaislam.com) - Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Nazar berarti Janji (pada diri sendiri) hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai. Misalnya seseorang berjanji “Jika lulus ujian, saya akan berpuasa selama seminggu,” atau “Jika saya diterima bekerja di perusahaan, saya bernazar untuk umroh pada bulan Ramadhan.” Inilah di antara contoh nazar.
Seperti dilansir detik.com, artis Julia Perez punya nazar bila follower Twitter-nya mencapai satu juta. Ia berjanji akan berjoget ala penari striptease di lampu merah Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Jupe pun memenuhi janjinya itu pada Selasa (07/08) malam. Aksi Jupe malam itu menarik perhatian puluhan pengendara motor yang melintas di jalan itu.
“Nazarnya sudah terpenuhi. Aku bener-bener malu tapi harus dilakukan. Itu harus dilakukan karena memang harus dibuktikan,” ujar Jupe usai melakukan aksinya.
“Kalau saya sampai satu juta follower di Twitter saya akan strip di lampu merah,” ujarnya kala itu.
Jupe merasa dirinya harus mewujudkan nazarnya itu demi para penggemarnya. Ia tak mau dicap sebagai artis pengumbar janji.
“Saya nggak mau dibilang bohong. Takut saya dibilang sarap,” ucapnya seraya tertawa.
Apakah Nazar Seperti Itu Boleh Dilakukan?
Islam memandang hukum asal nazar adalah makruh, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Akan tetapi seseorang yang sudah terlanjur mengucapkan, maka nazar tersebut tetap wajib ditunaikan.
Adapun nazar seperti yang telah dilakukan Jupe adalah nazar maksiat maka semestinya tidak dilakukan, seperti disebut didalam hadits: “Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagai gantinya ia mesti membayar kafarah (tebusan) sumpah, sebagaimana tercantum didalam hadits: “Nazar itu ada dua macam. Jika nazarnya adalah nazar taat, maka wajib ditunaikan. Jika nazarnya adalah nazar maksiat -karena syaithan-, maka tidak boleh ditunaikan dan sebagai gantinya adalah menunaikan kafarah sumpah.” (HR. Al Baihaqi). (bms)
***
Mimbar Islam - Jumat, 18 Jan 2013 00:03 WIB
Mencampuradukkan Iman dengan Maksiat
Oleh: Sufriyansyah.
Dalam sebuah acara Talk Show di satu televisi nasional, Julia Perez atau lebih dikenal dengan nama Jupe ditanya soal keinginannya menjadi titisan Suzanna. Jupe menjawab bahwa keinginannya ini karena kehendak Allah, “jika Allah menghendaki maka apa yang menjadi keinginannya akan terwujud.” Lanjut Jupe, “bukankah langkah, rezeki, pertemuan dan maut semua sudah ditentukan Allah…!”. Jawaban Jupe yang “aneh” itu disambut dengan tepuk tangan audien yang hadir dalam acara tersebut.
Apa yang diutarakan Jupe di atas, mirip dengan yang dikatakan Inul Daratista beberapa tahun lalu ketika Goyang Ngebor sedang booming. Aa Gym pernah bertanya kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah berpikir bahwa yang Mbak Inul lakukan (goyang ngebor) itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?” Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah nggak…”

Baik Jupe atau Inul seperti tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bisa jadi ungkapan itu karena ketidakpahaman mereka soal agama. Atau malah mereka tidak peduli sama sekali dengan urusan agama. Dalam Islam, Keinginan Jupe menjadi titisan Suzanna dengan melakukan dengan ritual semedi, makan kembang tujuh rupa, mandi dari tujuh mata air, dan meminta pertolongan dukun itu sudah termasuk perbuatan menyimpang dari ajaran Islam atau disebut “syirik”. Fokus persoalannya bukan pada perbuatan syiriknya, tetapi ketika perbuatan maksiat (durhaka kepada Allah) itu dihiasi dengan bahasa agama sambil menyebut-nyebut nama Allah.
Dalam masyarakat kita, mencampuradukkan keimanan dengan kemaksiatan sering terjadi. Padahal antara keduanya ibarat air dengan minyak, alias tidak dapat disatukan. Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (QS. Al-An’am: 82). Sesungguhnya perbuatan syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS. Luqman: 13). Sedangkan menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, para sahabat menafsirkan kata “zhulmun” dalam QS. Luqman: 13 itu mencakup syirik dan perbuatan maksiat lainnya. Artinya, orang yang mencampuradukkan kemaksiatan dengan keimanan adalah orang yang berbuat zalim.

Banyak contoh yang bisa dikemukakan mengenai hal itu. Ditambah latar belakang budaya dan alam pikiran masyarakat kita pada dasarnya tidak pernah memiliki kesungguhan atau konsistensi untuk menyikapi segala macam kemaksiatan meskipun secara teoretis itu bertentangan dengan nilai-nilai agama yang mereka anut.
Ketidaksungguhan itu maksudnya begini: menyembah Allah, tapi juga mengingkari-Nya. Mencintai-Nya, tapi juga menyakiti hati-Nya. Shalat juga, tapi beli togel juga. Puasa Ramadan juga, tapi minum minuman keras dan narkoba rajin juga. Naik haji juga, tapi hal itu tidak dijamin pasti menghalanginya melakukan korupsi, kecurangan, menyakiti orang lain, berselingkuh, pakai jimat, menyantet kompetitornya dalam urusan bisnis, melakukan penindasan dan kezaliman, serta berbagai macam perilaku yang membuat Allah sakit hati.

Ada beberapa sebab yang membuat orang mencampuradukkan iman dengan maksiat, khususnya perbuatan syirik. Pertama, karena memang tidak tahu atau tidak mengerti. Masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah atau masyarakat yang bodoh dalam segi akidah. Sebelum datangnya Islam, masyarakat jahiliyah telah percaya kepada Allah sebagai Tuhan yang mengatur alam. Tetapi karena kebodohannya, mereka ciptakan patung-patung sebagai perantara Allah di bumi. Akhirnya, mereka bukannya menyembah Allah, tetapi menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri.

Penyebab kedua adalah karena lemahnya iman. Seorang yang imannya lemah cenderung berbuat maksiat. Ia terkadang tahu bahwa yang dilakukannya itu salah, tapi tetap dilakukannya karena tidak punya rasa takut kepada Allah. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh setan untuk memperdaya diri seseorang. Seseorang yang lemah iman, ia akan mudah jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memakai jimat, meminta ramalan ke dukun, datang ke ke kuburan para wali untuk minta pertolongan, atau memakai susuk dan pemanis supaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.

Sebab yang ketiga adalah Taklid atau ikut-ikutan secara membabi buta. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf: 28).
Allah menurunkan Islam sebagai agama Tauhid dan membantah segala bentuk penyekutuan terhadap Allah. Tauhid ialah mengesakan Allah dalam segala hal baik bersifat akidah, ibadah dan sistem hidup. Oleh sebab itu, pengertian kalimat Tauhid: “La Ilaha Illa Allah” adalah Tidak ada tuhan apapun di dunia yang berhak disembah, ditaati, dikagumi, dibesarkan dan dicintai selain Allah. Hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan dijadikan sandaran ketergantungan hidup manusia.
Adapun Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan syirik disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk (manusia atau benda) yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah seperti menuhankan sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, menaatinya, atau melakukan perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT.
Syirik terbagi dua: Pertama, Syirik Akbar (Syirik Besar). Syirik akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan Allah (QS. An-Nisaa’: 48), seperti menyembah patung, binatang, bulan, matahari, batu, gunung, pohon besar, orang shaleh, makhluk halus dan sebagainya. Kedua, Syirik asghar (syirik kecil) yang termasuk perbuatan dosa besar, tetapi masih ada peluang diampuni Allah jika pelakunya segera bertobat. Contoh-contoh perbuatan syirik kecil antara lain: bersumpah dengan nama selain Allah, memakai jimat, sihir, percaya pada ramalan dukun, dan sebagainya.
Tauhid menyiratkan bahwa segala aktifitas manusia harus disandarkan kepada Allah semata. Segala macam aktifitas dalam kehidupan manusia seperti makan, minum, berumah tangga, bekerja mencari uang, hingga bersosialisasi dalam masyarakat harus disandarkan dalam rangka pengabdian kepada Allah. Ketika manusia memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan.
Jangan mengira bahwa ketika seseorang sedang beribadah, ia bisa lepas dari ancaman perbuatan syirik. Jika ia beribadah bukan karena Allah tetapi karena ingin mengharapkan pujian dari orang lain, atau mengharapkan imbalan dari ibadahnya itu (dalam bahasa agama disebut riya) maka sesungguhnya ia telah melakukan syirik kecil (HR. Ahmad). Karena itu, hati-hatilah jangan sampai kita terjerumus kepada perbuatan syirik dan jangan campuradukkan iman dengan kemaksiatan. Wallahu A’lam.***

*Penulis adalah dosen dan pemerhati masalah sosial keagamaan
            http://nahimunkar.com/jika-pks-ingin-selamat-singkirkan-3-manusia-ini/
  Sumber: analisadaily.com & berbagai sumber lain
          

0 komentar:

Posting Komentar